Senin, 10 Desember 2012

KAMMI dan Pemilihan Rektor

Dalam diskusi dwi mingguan KAMMI Komisariat UIN Maliki Malang yang bertajuk “Memilih Pemimpin, Memilih masa depan. Memotret Harapan Mahasiswa untuk Pemimpin Ideal UIN Maliki Malang”. KAMMI kembali menegaskan bahwa mahasiswa harus mempunyai haknya memilih rektor. Kehidupan demokrasi ditentukan pula dengan pemilihan rektor ini. Tanpa kontribusi mahasiswa di dalam pemilihan rektor ini, maka jelas sudah bahwa keran demokrasi telah rusak di kampus UIN Maliki Malang ini. Mahasiswa sebagai tatanan masyarakat yang paling penting, seharusnya menduduki kewenangan dalam pemilihan rektor ini. Setidaknya kontribusi minimal yang paling nyata untuk keberlangsungan hidup mahasiswa yang tidak ingin ditekan oleh birokrasi kampus yang hanya menekankan kepada kerja-kerja budak perusahaan kelak adalah ingin didengar suara dan harapan bagaimana seharusnya rektor yang ideal menurut mahasiswa walaupun tidak mesti harus mencoblos untuk kepemimpinan rektor ke depan.
KAMMI dan Mahasiswa
KAMMI dalam dimensi pergerakan mahasiswa yang dinamis, harus mampu mengakomodasi moment ini, untuk membangunkan kesadaran berfikir mahasiswa agar ia lebih peduli dengan keadaan kampus yang sebenarnya terjadi. KAMMI harus menjadi katalisator bergabungnya seluruh elemen mahasiswa dengan mengatasnamakan elemen mahasiswa peduli kampus. Dan KAMMI harus menunjukkan keadaan mendesak yang harus diubah di kampus UIN Maliki Malang ini. Karena hingga saat ini, mahasiswa benar-benar terbuai dengan kata-kata indahnya pak Rektor. Entah apa yang disampaikan itu bisa dibuktikan janjinya? Sehingga, saat ini mahasiswa benar-benar ’sepi’ dari dinamika politik pemilihan rektor.
Buaian kata-kata indah dan doktrinasi mahasiswa agar cepat lulus dengan harapan menjadi budak-budak perusahaan menjadi ‘kartu As’ birokrasi untuk mengekang dan memenjarakan mahasiswa di jeruji akademik. Akhirnya mahasiswa disibukkan dengan tugas-tugas yang menumpuk dan juga pada akhirnya akan berorentasi kepada nilai, bukan pemahaman. Lalu kemudian, apa bedanya mahasiswa dengan siswa-siswa SMA lainnya? Jika kemudian tugasnya sama, mengerjakan tugas, kemudian orentasi hanya kepada nilai, dan akhirnya lulus.
Mahasiswa harus kembali menanyakan, ‘bagaimana kalau rektor ini memimpin?’, ‘Apa yang ingin dia bawa untuk kemajuan universitas ini?’, pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus menjadi sebuah perenungan panjang mahasiswa. Kali ini, ada satu kepentingan bersama yang harus kita akomodasi bersama, tidak mungkin dilakukan oleh PMII, dan tidak mungkin dilakukan oleh HMI, dan tidak mungkin dilakukan oleh KAMMI dan pergerakan-pergerakan mahasiswa lainnya. Kali ini, seluruh mahasiswa harus bergerak. Ini menentukan nasib mahasiswa sebagai rakyat di sebuah komunitas bernama universitas. Mahasiswa harus mengawal dengan baik pemilihan rektor ini, agar ia jauh dari politik transaksional yang busuk. Kita harus benar-benar menginginkan rektor yang lahir dari rahim transformasional, yang lahir dari pemahaman akan visi,misi dan filosofi universitas ini dengan baik.
KAMMI dan Rektor
KAMMI menganggap bahwa rektor adalah representative dari universitas tersebut. Kita melihat bagaimana kecakapan sebuah universitas dari bagaimana sosok rektor yang memimpinnya. Tentu kita tidak ingin, suatu saat nanti rektor yang memimpin kita ini misalnya adalah rektor yang ternyata tersandung kasus korupsi. Karena, begitu rektor benar-benar menjadi seorang tersangka, maka citra universitas ini akan jatuh, dan label yang tersemat di universitas tentunya bukan sebagai wadah akademik para mahasiswa untuk menimba ilmu, tapi wadah para calon koruptor di bangsa ini.
Begitu pula, mungkin misalnya calon rektor nanti adalah seorang yang plagiator yang karya ilmiahnya ternyata adalah hasil dari plagiat orang lain. Tentu universitas ini, tidak ingin dicap sebagai kampus yang mahasiswa adalah orang-orang plagiator. Tentu, kita tidak bisa menyalahkan orang dengan penilaian yang sempit ini, karena memang seperti itulah realita yang ada saat ini. Dan kita tidak bisa memungkirinya.
Dan tentu pula, kita tidak ingin calon rektor yang memimpin nantinya adalah orang yang menghambat berjalannya proses demokrasi yang ada di universitas saat ini. Tidak ada kedekatan sama sekali dengan mahasiswanya, tidak bisa atau sangat anti dengan kritik-kritik pedas yang dilontarkan oleh mahasiswanya. Rektor juga harus bisa melihat bagaimana komunitas heterogen yang terbentuk di universitas ini harus dijaga dengan baik. Kritikan yang pedas sekalipun juga harus bisa didengar dan tidak serta merta ditanggapi dengan perasaan bahwa mahasiswanya telah berupaya menggulingkannya. Rektor juga harus bisa membangun bagaimana sebuah kritik itu tidak terjatuh kepada kritik destruktif akan tetapi mengajarkan kepada mahasiswa agar lebih kritis tapi kritis yang konstruktif, kritik yang membangun.
Saat ini kita melihat memang tidak ada dari mahasiswa yang mendengar hingar bingar bahwa akan ada pergantian rektor. Semestinya, momen sebesar ini mahasiswa harus tahu, biarkan mahasiswa juga ikut memberikan suatu kriteria ideal rektor dalam pemilihan ini. Tidak mungkin mahasiswa harus mengikuti peraturan dari rektorat sedangkan wakil mahasiswa tidak dilibatkan didalamnya. Ini seolah-olah sistem yang berjalan adalah ingin memenjarakan demokrasi.
Pelibatan wakil mahasiswa dalam pemilihan rektor tentu akan membuat mahasiswa terwakili dengan adanya suara disana. Dan tentunya mahasiswa yang ditunjuk sebagai wakil mahasiswa juga harus mahasiswa yang idealis, yang tidak terpukau dengan transaksi-transaksi kecil dari calon rektor.
KAMMI dan Harapan Ideal Rektor
Memang tidak besar nantinya KAMMI dalam proses pemilihan rektor, tapi dengan tulisan ini setidaknya KAMMI mewakili suaranya dalam pemilihan rektor. Harapan besar untuk rektor ke depan memang menjadi sebuah solusi bagi seluruh civitas akademika universitas. Berbicara rektor ke depan berarti kita akan berbicara bagaimana universitas ini ke depannya. Akankah rektor selanjutnya bisa melebihi kegemilangan rektor sebelumnya ataukah justru sebaliknya.
Tentunya, rektor yang ideal nantinya adalah rektor yang mampu meneruskan visi universitas yang tetap bercirikan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan berintegrasi dengan keislaman. Pohon Ilmu dalam perspektif Islam adalah mahakarya kampus ini, ia muncul atas perenungan tokoh pendahulu mengenai dikotomi Ilmu pengetahuan yang berkembang dalam dunia pendidikan. Rektor selanjutnya tidak hanya menjadikan hal ini sebagai kebanggaan, tapi bertanggung jawab untuk meneruskan pewarisan konsep pohon ilmu perspektif Islam dalam aplikasinya pada proses belajar mengajar di kelas, materi pembelajaran, dan perilaku akademis para civitas akademika UIN Malang.
Kemudian, rektor yang ideal adalah rektor yang memberikan nafas bagi gerakan-gerakan mahasiswa untuk berdinamika di kampus ini. Rektor yang terus memompa mahasiswanya agar tetap kritis kepada kebijakan-kebijakan birokrasi jika ada yang tidak pro-mahasiswa. Mahasiswa adalah rakyat yang harus tetap dipertahankan kedaulatannya. Dengan seperti itu, maka dinamika di kampus ini akan berjalan dengan progresif, karena semua elemen di kampus ini merasakan jatuh bangun bersama. Bukan hanya jatuh bangun di atas saja, tapi dibawah juga harus benar-benar merasakannya.
Dan terakhir adalah sosok rektor yang selalu berpihak kepada kepentingan mahasiswa, rektor yang nantinya akan terpilih harus lebih sering mendengarkan masukan-masukan dari para mahasiswanya juga.

Wallahu a’lam

Muhammad Syafullah Robbani - Ketua Umum KAMMI UIN Maliki Malang

Selayang Pandang Perjuangan Politik Islam di Indonesia


Dalam Islam, kita mengenal istilah as-siyasah yang dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan kata politik. Siyasah sendiri dapat diartikan sebagai strategi, siasat, seni mengatur urusan ummat, urusan negara. Islam tidak dapat dipisahkan dari politik, dan politik juga tidak dapat dipisahkan dari Islam. Memisahkan keduanya, berarti menolak kesempurnaan Islam. Karena Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur seluruh lini kehidupan manusia. Namun begitu, masih kita dapati sebagian dari ummat muslim sendiri yang menolak kenyataan ini, padahal Allah perintahkan kepada kita: udkhulu fis silmi kaaffah (masuklah kedalam islam secara total keseluruhan!)

Maksud total menyeluruh (kaffah) itu ialah dalam seluruh lapangan dan sektor kehidupan, baik dalam lingkup individu, masyarakat dan negara, harus islami atau berlandaskan islam. Politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya dan lain-lain, seluruhnya harus berlandaskan nilai-nilai Islam. Maka dari itu, kedudukan negara menjadi penting sebagai sarana untuk merealisasikan kekaffahan dan kesyumulan Islam, serta menjalankan perannya sebagai rahmatan lil alamin. Sehingga mewujudkan negara (daulah) islam itu mutlak diperlukan.

Jika kita melihat sejarah, maka akan kita dapati bahwa sejak pertama kemunculannya, ummat muslim telah berada dibawah satu naungan negara (madinah) dengan satu komando politik yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw, yang kemudian beralih kepada institusi khilafah setelah wafatnya Rasulullah saw. Dan kondisi ini masih terus berlangsung hingga penghujung abad ke XIX.

Namun pasca runtuhnya kekhilafah Islam Turki Usmani pada 3 Maret 1924 silam, ummat muslim tidak lagi bersatu, baik dalam tatanan politik maupun teritorial. Negeri-negeri Islam terpecah menjadi puluhan negara-negara kecil, sistem politik sekuler, liberal dan komunis menguasai pemerintahannya, ikatan akidah yang menjadi pemersatu ummat pun kini berganti menjadi ikatan bangsa (nasionalisme) yang semakin merobek-robek persatuan dan kesatuan ummat. Akibatnya, dapat kita saksikan sendiri bagaimana suatu negara muslim saling berperang, saling berkonfrontasi, saling memojokkan dengan negara muslim lainnya.

Runtuhnya institusi khilafah Islam sebagai pemersatu ummat dalam politik dan kenegaraan ini memiliki dampak yang besar. Kemunduran drastis pun dialami ummat muslim, bahkan hingga  saat ini sulit rasanya untuk menegakkan kembali khilafah Islamiyah. Sebagai jawaban atas kondisi ini, harokah-harokah islam pun bermunculan dengan manhaj dan metode perjuangannya masing-masing, yang semuanya bermuara pada satu cita dan tujuan : tegaknya kembali khilafah islamiyah.

Dalam konteks indonesia, ummat muslim indonesia pun tak ketinggalan mengambil perannya dalam upaya memperjuangkan tegaknya kembali negara Islam, baik lewat perjuangan secara politik maupun secara militer (perjuangan bersenjata). Sejarah mencatat Syarekat Islam sebagai partai politik islam pertama yang berhasil menggalang persatuan dan kesatuan ummat muslim di nusantara. Meskipun akhirnya bubar sebelum berhasil mewujudkan misinya merealisasikan negara Islam Indonesi yang merdeka dan berdaulat, akibat makar yang dilakukan oleh penjajah kafir belanda.

Pada tahap berikutnya, ummat muslim indonesia hampir saja berhasil mewujudkan Indonesia yang berasaskan Islam jika saja tidak dikhianati oleh makar-makar kaum nasionalis yang menghapus tujuh kata dalam dasar negara indonesia : kewajiban menjalankan syariat islam bagi para pemeluknya. Kemudian pada awal kemerdekaan, muncul pula perlawanan bersenjata dari Darul Islam pimpinan SM. Kartosuwiryo yang bertekad mewujudkan Negara Islam Indonesia yang berdaulat, walaupun akhirnya dapat dikalahkan oleh tentara nasionalis sebelum berhasil meujudkan misinya. Dan pada masa orde lama sampai awal orde baru muncul Masyumi sebagai parpol islam yang mampu menyatukan seluruh kekuatan politik ummat, meskipun akhirnya juga mengalami hal yang sama dengan para pendahulunya : hancur oleh tangan penguasa.

Bubarnya Masyumi menandai kemunduran peran serta ummat dalam panggung perpolitikan nasional. Karena setelah itu, Soeharto sang diktator mengambil tindakan represif terhadap gerakan islam dengan menangkapi dan bahkan membunuh para aktivisnya yang tetap istiqomah memperjuangkan islam sebagai ideologinya.

Pasca reformasi, angin segar bagi perjuangan penegakan islam di indonesia kembali berhembus. Berbagai ormas dan partai politik yang mengusung ideologi islam pun naik ke permukaan. Dan opsi pemberlakuan syariah islam pun bergulir di lembaga legislatif, meskipun akhirnya kembali mengalami kegagalan akibat ‘kejahilan’ sebagian ummat terhadap agamanya sendiri, sehingga mereka beranggapan bahwa syariah islam adalah momok menakutkan yang harus dijauhkan dari pemerintahan.

Dan akhirnya kerinduan ummat yang telah lama menantikan hadirnya kekuatan politik yang benar-benar komitmen dengan nilai-nilai islam terjawab sudah. Lahirnya partai-partai islam ini membawa harapan baru bagi perjuangan penegakan Islam di Indonesia. Kehadiran partai ini kembali melekatkan islam sebagai kekuatan politik yang telah sekian lama ditekan oleh rezim orde baru. Menegarakan Islam merupakan misi dari partai ini, di mulai dari tahapan yang paling kecil : membentuk pribadi-pribadi muslim sejati, kemudian membina keluarga yang islami, selanjutnya membentuk masyarakat yang islami, memperbaiki sistem pemerintahan agar berjalan sesuai dengan nilai-nilai islami sampai akhirnya Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh dunia. Wallahu a’lam

Oleh : Eko Priadi, Staff Kaderisasi KAMMI UIN Maliki Malang

Ormas Islam Indonesia : Bilakah Tiba Saatnya Bersatu?


Berbicara mengenai kiprah islam di Indonesia, tentu tidaklah dapat disamakan dengan negeri-negeri muslim lainnya. Indonesia dengan keragaman suku, ras dan budayanya memiliki karakteristik dan cara yang berbeda dalam menegakkan islam di buminya. Di sisi lain, keragaman ini menyebabkan sulitnya mengumpulkan seluruh tokoh-tokoh Islam dengan pemahaman yang sama, sehingga dapat dikatakan bahwa sampai saat ini belum ada kepemimpinan Islam yang dapat diterima oleh semua golongan lapisan masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

Akibatnya, dapat kita saksikan sendiri betapa beragamnya gerakan Islam yang muncul di Indonesia dengan beragam manhaj dan metode perjuangannnya masing-masing. Mulai dari yang berskala lokal, nasional sampai internasional, baik yang bercorak tradisional maupun modern, semua ada di indonesia.

Terdapat beberapa organisasi Islam di Indonesia, diantaranya yang bersifat nasional antara lain Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad yang pada awalnya bernama Jami’at Khair, Hidayatullah, Nahdhatul Ulama (NU). Muhammadiyah, Persis, Hidayatullah dan Al-Irsyad lebih dikenal masyarakat sebagai gerakan Islam Modernis sendagkan NU seringkali dikategorikan sebagai Islam traditional, salah satunya karena sistem pendidikan pesantrennya. Ciri yang menonjol dari keempat ormas ini adalah metode perjuangan mereka yang bergerak melalui bidang pendidikan, dan sosial kemasyarakatan, yang mana dalam hal ini Muhammadiyah menempati posisi teratas dengan ribuan sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan tinggi serta ratusan rumah sakit di seluruh Indonesia.

Selain kelima organisasi diatas, juga kita kenal ormas islam yang berskala nasional lainnya seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) dan lain-lain. Sementara itu, diantara ormas-ormas Islam yang berskala internasional kita mengenal adanya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan lain-lain.

Melihat kondisi ormas-ormas Islam saat ini, agaknya telah telah terjadi kemunduran dan disintegrasi. Terbukti bahwa sampai hari ini belum kita dapati adanya satu wadah yang mempersatukan kekuatan dari ormas-ormas tersebut. Padahal dahulu kita dapati mereka pernah bersatu padu di bawah naungan Syarekat Islam dan Masyumi sehingga menjadi kekuatan politik yang sangat berpengaruh di panggung perpolitikan nasional.

Namun pasca bubarnya Masyumi di awal masa orde baru hingga masa reformasi sekarang ini, belum kita lihat adanya aksi nyata dari ormas-ormas Islam yang ada saat ini bersatu, saling bahu membahu dalam memperjuangkan Islam di bumi pertiwi ini. Bahkan yang lebih memprihatinkan, jika dulu kita lihat 'perang dingin' antar ormas ini hanya terjadi di tataran grassroot saja, maka kini kita dapat hal itu telah sampai dalam tataran elit ormas-ormas tersebut. Tentu masih segar dalam benak kita, bagaima seorang pimpinan salah satu ormas islam--yang katanya--terbesar di indonesia, dengan tanpa merasa berdosa sedikitpun menuduh beberapa ormas islam lainnya dengan tuduhan yang sesat dan menyesatkan. Belum lama ini juga kita saksikan di media-media, bagaimana ormas-ormas anti islam, jaringan islam liberal, serta kaum gay dan lesbi bersatu padu untuk membubarkan salah satu ormas islam yang gencar melakukukan amar ma'ruf nahi munkar. Namun apa yang dilakukan oleh ormas-ormas islam lainnya? Hanya berdiam diri. Nah, pertanyaannya sekarang : mengapa 'kita' begitu sulit bersatu?

Menurut saya, setidaknya ada dua sebab utama mengapa ormas-ormas islam sulit sekali untuk bersatu. Pertama, belum adanya kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan ummat antar ormas-ormas yang ada. kalaupun ada, itu baru sebatas wacana saja, belum ada langkah-langkah kongkrit untuk mewujudkannya. Kedua, belum adanya momentum yang dapat menyatukan visi misi serta gerak langkah antar ormas islam yang ada. Kalau kita lihat kondisi di mesir hari ini, akan kita temukan bagaimana ormas/jamaah islam yang ada--seperti ikhwanul muslimun dan salafiyah--bersatu padu dalam upaya reformasi mesir pasca tergulingnya rezim husni mubarak. Begitu pula kondisi ormas-ormas islam pada awal-awal kemerdekaan indonesia dulu, semuanya bersatu dalam satu barisan, dan menjadi kekuatan besar yang mampu mewarnai pemerintahan, pasca peralihan kekuasaan dari masa penjajahan. Hingga akhirnya konflik kepentingan menyebabkan perpecahan antar mereka.

Namun meskipun begitu, harapan itu masih ada. Kita berharap, setidaknya kedepan akan terbentuk sebuah forum atau wadah apapun yang dapat memfasilitasi terjalinnya komunikasi antar seluruh ormas islam yang ada di indonesia. karena dengan komunikasi, akan terbangun sikap tafahum, saling memahami antar ormas yang ada. Kemudian dari sikap tafahum tadi, akan melahirkan rasa persatuan dan kesatuan diantara mereka, sehingga dapat meningkat menjadi sikap ta'awun, saling menolong, bahu membahu dalam dakwah dan perjuangan islam. Semoga di masa mendatang semua ormas-ormas ini dapat bersatu sehingga dapat merealisasikan misinya mewujudkan negara Indonesia yang islami. Wallahu a’lam

Oleh : Eko Priadi (Staff Kaderisasi KAMMI UIN Maliki Malang)

Tauhid Sebagai Pondasi Ekonomi Syariah


Berbicara tentang ekonomi syariah, maka kita tak dapat melepaskannya dari nilai-nilai dasar yang menjadi pijakannya, yaitu ketauhidan kepada Allah swt. Sebagai seorang muslim, tentunya kita yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah-lah yang  mencipta dunia dengan segala isinya, Dia pula yang menciptakan, mengurus, mengatur dan mencukupi seluruh kebutuhan makhluknya.

Manusia sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna, dalam kehidupannya di dunia ini memiliki dua tugas utama : sebagai ‘hamba’ yang mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Allah, dan sebagai ‘khalifah’ yang mendedikasikan hidupnya untuk memakmurkan, menyejahterakan, mengamankan bumi Allah. Namun di lain sisi, manusia juga diberikan oleh Allah potensi untuk sesat, merusak dan menumpahkan darah.

Maka untuk menjalankan tugasnya itu, Allah pun memberikan petunjuk kepada ummat manusia melalui “kalam”-Nya yang terjaga (Al-Quran) dan keteladanan dari RasulNya yang mulia (As-Sunnah). Jika petunjuk ini yang menjadi pegangan, pijakan dan landasan bagi manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai ‘hamba’ dan ‘khalifah’, maka misinya untuk beribadah, memakmurkan dan mengamankan bumi Allah akan terealisasi. Namun jika manusia berpaling dari petunjuk itu, maka kesesatan, kerusakan dan pertumpahan darah itulah yang akan terjadi.

Dari sini dapat kita pahami bahwa segala aktivitas manusia dalam seluruh lini kehidupannya, termasuk kegiatan social dan ekonomi (muamalah), adalah bagian dari ibadah. Sehingga dalam penerapannya, haruslah berlandaskan pada nilai-nilai ketauhidan kepada Allah, nilai-nilai Al-Quran dan Sunnah. Tidak boleh menghalalkan segala cara, hanya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Jad,i dalam Islam kegiatan ekonomi itu bukan hanya untuk mencari keuntungan duniawi semata, namun juga sebagai bentuk ibadah kepada Allah, sebagai sarana untuk mecari ‘keuntungan’ akhirat. Orientasi akhirat inilah yang menjadi ‘furqan’ (pembeda) antara ekonomi syariah dengan ekonomi konvensional.

Selain dalam hal orientasi, perbedaan mendasar lainnya antara sistem ekonomi syariah dengan sistem ekonomi konvensional adalah paradigma berfikir yang dibangunnya. Para pengusung ekonomi konvensional meyakini bahwa “sumberdaya itu terbatas” sedangkan “kebutuhan manusia tidak terbatas”. Atau dengan kata lain, mereka beranggapan bahwa sumberdaya yang tersedia jauh lebih sedikit daripada jumlah manusia. Ini adalah tuduhan yang keji terhadap Allah! Seolah-olah Allah tidak teliti menciptakan manusia dan sumberdaya dengan tidak seimbang.

Padahal tidak satupun makhluk yang ‘bergerak’ di bumi ini, melainkan telah Allah jamin rezkinya. Kata kuncinya adalah ‘bergerak’. Jadi selama manusia mau bergerak, bekerja, berusaha dengan mengerahkan segala potensinya untuk mencari ‘karunia’ Allah, maka pasti akan Allah jamin rezkinya, akan Allah cukupi kebutuhan-kebutuhannya, bahkan dari ‘jalan yang pernah disangka-sangka’. Dan Allah punya cara sendiri untuk membagikan rezki kepada seluruh makhluk-Nya.
Sejak masa Nabi dahulu, tanah Arab itu sudah memiliki kandungan minyak yang melimpah, namun tidak digunakan, tidak terksplorasi, karena memang Allah belum berikan ilmunya. Baru seabad terakhir ini manusia diberi ‘sedikit’ ilmu tentang minyak, dan itu sudah menjadi solusi bagi banyak kebutuhan manusia.

Kemudian Allah berikan ‘sedikit’ ilmu tentang komunikasi, dan itu sudah menjadi solusi bagi banyak persoalan manusia. Berapa banyak orang yang ‘mengais’ rezkinya dari bidang ini, dan berapa banyak pula yang menjadi kaya-raya karenanya.

Manusia baru di beri ilmu sedikit saja, namun mereka sudah menuduh Allah tak mampu menyediakan rezki yang cukup bagi ciptaannya. Padahal mereka belum mencapai ilmu dimana container dapat dipindahkan realtime seperti SMS. Maha suci Allah dari segala yang mereka tuduhkan.

Paradigma seperti inilah yang mengkonstruk prilaku-prilaku zalim, curang, dan cenderung menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dalam kegiatan perekonomian mereka, hanya karena ketamakan dan takut tidak kebagian ‘jatah’.

Namun Islam telah mengajarkan kepada kita bahwa sesungguhnya “sumberdaya itu tak terbatas” sendangkan “kebutuhan manusia itu terbatas”. Itulah sebabnya, kenapa kita harus senantiasa menjunjung tinggi predikat ‘halal’ dalam setiap transaksasi ekonomi kita.

Dalam Islam, setiap orang dibenarkan untuk menikmati hartanya seseuai dengan kebutuhannya, tidak berlebih-lebihan, tidak ‘mubazir’ dan tidak berfoya-foya. Dan kita diperintahkan untuk ‘mengeluarkan’ sebagian dari kelebihan harta kita untuk kepentingan agama dan orang-orang yang membutuhkannya. Karena di dalam harta kita juga terdapat hak mereka, yang meminta-minta maupun yang ‘menahan’ tangannya. Maka dengan paradigma seperti ini, nilai-nilai kejujuran, keadilan, kesetaraan, dan kepedulian social menjadi prinsip yang tak terpisahkan dari ekonomi syariah.
Allahu a’lam

Oleh : Eko Priadi

Palestina, Nasibmu Kini Siapa Peduli ?

Palestina. Apa yang terbayang di benak kita jika mendengar kata tersebut? Pasti pikiran kita akan melayang ke sebuah negeri dimana terdapat Masjid Al-Aqsha, tempat Isra’ dan Mi’rajnya Rasulullah SAW, sekaligus merupakan qiblat pertama ummat muslim dalam melaksanakan shalat, lebih kurang delapan belas bulan lamanya. Nah, tahukah anda gimana keadaan di Palestina sekarang?

Yup, beberapa waktu yang lalu dunia dihebohkan dengan kabar mengerikan tentang agresi militer Israel ke Gaza, Palestina. Hampir seluruh media massa, baik cetak maupun elektronik memberitakannya, dan ummat muslim di penjuru duniapun bereaksi dengan melakukan aksi solidaritas, mengecam, mengutuk kebrutalan pasukan zionis Yahudi, sampai menggalang bantuan dana untuk membantu para korban perang Palestina, bahkan tak terkecuali hingga di pelosok nusantara pun melakukan hal yang sama.

Pada 14 November lalu, untuk kesekian kalinya Zionis Israel menggempur Gaza dengan serangan udara dan laut. Selama delapan hari penuh Israel menghujani wilayah Gaza dengan rudal dan mortir hingga menewaskan 166 warga sipil, diantaranya terdapat 43 anak-anak dan 13 wanita, serta 1235 orang lainnya luka-luka. Kerugian materil akibat serangan Israel ini juga tidak tanggung-tanggung, total kerugiannya mencapai angka USD 1 Miliar atau sekitar Rp. 9,6 Triliun (www.news.detik.com). Dengan sengaja dan penuh kesadaran mereka mengarahkan serangan kepada warga sipil, wanita dan anak-anak. Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang keji.

Namun begitu, bukan berarti rakyat Palestina hanya berdiam diri, pasrah dengan kebrutalan dan kezaliman Zionis Israel, sekali lagi tidak! Para mujahidin yang tergabung dalam Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer HAMAS, melakukan pembalasan yang tak kalah sengit. Ribuan roket mereka luncurkan ke berbagai wilayah Israel, bahkan beberapa diantaranya mampu menjangkau kota Tel Aviv, ibukota Israel yang berjarak 80 km dari Gaza, meski telah dilindungi oleh system pengaman anti rudal yang tercanggih di dunia, Iron Dome. Bahkan roket-roket Gaza yang notabene adalah produk dalam negeri, dan dibuat dari barang rongsokan, atas pertolongan Allah telah mampu pula menjatuhkan pesawat tempur F-16, helicopter Apache dan menghantam kapal perang milik Israel (lihat di www.metrotvnews.com, http://liputankita.com, dan http://indonesian.irib.ir).

Akhirnya, dengan menanggung rasa malu dan kehinaan, pada Rabu (21/11/2012)  Israel menyepakati gencatan senjata dengan HAMAS yang difasilitasi oleh Mesir, dan menerima semua persyaratan yang diajukan oleh pihak Palestina, salah satunya adalah mengakhiri blokade di jalur Gaza yang telah berlangsung puluhan tahun. Dan yang lebih menggembirakan lagi, melalui Sidang Majelis Umum PBB  pada Kamis (29/11/2012) lalu sebanyak 138 negara anggota PBB telah mengakui Palestina sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat ( lihat di www.antaranews.com, http://internasional.tvonenews.tv, dan http://international.sindonews.com). Ini merupakan kekalahan telak bagi Zionis Israel dan kroni-kroninya, serta merupakan kemenangan besar bagi bangsa Palestina dan ummat Muslim pada umumnya.

Nah, sekarang pertanyaannya adalah, kenapa konflik antara dua kubu ini selalu saja terulang? Banyak analisa yang telah dikemukakan oleh para ahli dan pengamat, mulai dari sudut pandang politik, ekonomi, social-budaya, dan militer. Namun jauh-jauh hari, lebih dari 14 abad yang lalu Allah swt telah memperingatkan kepada kita, “Sesungguhnya orang-orang yahudi dan nasrani itu tidak akan pernah ridha terhadap kalian (ummat muslim), sampai kalian mengikuti millah (agama, budaya, gaya hidup, perilaku dan kemauan) mereka” (QS 2:120). Dan dalam ayat yang lain Allah swt juga berfirman, “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik…” (QS. 5 : 82).

Dari penjelasan al-Quran di atas, dapatlah kita pahami bahwa sesungguhnya factor agama menjadi sebab dominan perseteruan abadi antara Yahudi dan Muslim. Dan kalau kita menyempatkan diri untuk membaca Sirah Nabawiyah, akan kita dapati bagaimana kebencian, permusuhan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh kaum Yahudi di Madinah terhadap Rasulullah saw dan para pengikut beliau. Jadi intinya, peperangan seperti ini merupakan realitas sejarah yang akan terus berulang hingga akhir zaman. Itu dalam konteks global. Namun dalam konteks perang Zionis Israel-Palestina, faktor historis-ideologis cukup kental mempengaruhinya.

Di satu sisi, pihak Zionis Israel mengklaim bahwa Palestina merupakan 'tanah yang dijanjikan' bagi bangsa Yahudi, yang akan menjadi negeri mereka, dimana mereka akan membangun kembali 'Kuil Sulaiman' yang menjadi simbol kejayaan bangsa Yahudi. Sehingga konsekwensi dari keyakinan ini adalah mereka harus menduduki tanah itu dan merampas hak-hak rakyat Palestina. Di sisi lain, dalam hati setiap muslim telah tertancap keyakinan dan kecintaan yang mendalam terhadap tanah Palestina dimana terdapat di dalamnya Masjid Al-Aqsha, bahwa itu adalah tanah suci yang diberkahi, bumi para nabi, tempat Isra' Mi'rajnya Rasulullah saw, kiblat pertama ummat muslim dalam melaksanakan shalat. Disamping memang secara de facto dan de jure tak dapat dipungkiri lagi bahwa rakyat Pelestina adalah pemilik sah 'tanah yang dijanjikan' itu, karena mereka sudah tinggal disana sejak ratusan tahun, jauh sebelum para imigran Yahudi berbondong-bondong menjajah dan mengusir mereka dari tanah kelahirannya. Dua interest inilah yang menyebabkan konflik Zionis Israel-Palestina akan terus mengabadi sepanjang zaman. Skenario endingnya hanya dua; Israel hengkang dan Palestina menguasai seluruh wilayahnya, atau masing-masing pihak rela melepaskan sebagian interestnya dengan menerima resolusi dua negara, Palestina separuh wilayah dan Israel separuh wilayah.

Pertanyaan berikutnya, ngapain kita harus repot-repot membantu dan mengurusi permasalahan Palestina? Emang urusannya sama kita apa? Toh di Indonesia sendiri juga masih banyak masalah pelik yang harus dipikirkan? Setidaknya, ada beberapa alasan kenapa kita harus ‘membela’ Palestina: Pertama, karena bangsa Palestina adalah saudara kita, saudara seiman, saudara seagama, saudara sesama manusia. Bukankah Allah swt telah menetapkan bahwa”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara..” (QS 49:10). Dan Rasulullah saw pun tak lupa mengingatkan kita bahwa “Orang-orang mukmin itu ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka sekujur tubuh akan ikut merasakan sakit..” (HR.Muslim). Sebagai saudara yang baik, maka sudah seharusnyalah bagi kita untuk membela, membantu, turut merasakan penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina. Bahkan kata Rasulullah saw, "Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri" (HR. Bukhari).

Kedua, Palestina merupakan salah satu Negara yang gigih mendukung kemerdekaan Indonesia di kancah Internasional pada masa awal proklamasi kemerdekaan dulu. Dukungan Palestina ini diwakili oleh mufti besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini yang secara terbuka mendukung kemerdekaan Indonesia pada 6 September 1945, yang kemudian disebarluaskan selama dua hari berturut-turut oleh Radio Berlin berbahasa Arab, dan juga dimuat oleh Harian Al-Ahram, koran nasional Mesir. Selain itu, Muhammad Ali Taher, seorang saudagar kaya Palestina juga secara spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia dan berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia”. Setelah itu dukungan mengalir, di jalanan Palestina terjadi gelombang demonstrasi untuk solidaritas dan dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah (lihat di http://fimadani.com dan http://blog.umy.ac.id/2012/11/17). Jadi secara tidak langsung Indonesia pernah berhutang budi kepada Palestina atas dukungan politiknya dalam membela kemerdekaan Indonesia.

Kemudian yang ketiga, memperjuangkan kemerdekaan Palestina merupakan amanat konstitusi, sebagaimana dinyatakan dalam pembukaan UUD 1945 alinea pertama, "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Oleh sebab itu, sebagai warga Negara yang baik, maka menjadi kewajiban kita untuk melaksanakan amanat dari konstitusi Negara kita.

Dan yang keempat, jangan sampai kita menjadi orang-orang yang ‘kerdil’, yang hanya memikirkan dirinya sendiri, yang hanya mengurusi masalahnya sendiri. Tapi jadilah orang ‘besar’, yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tapi juga memikirkan orang lain. Karena setiap Muslim harus bermental pemimpin, harus berusaha untuk menanggung beban orang lain. Karena Islam mengajarkan kita untuk menjadi orang ‘besar’, yang berpikir besar dan mengurusi pekerjaan-perkerjaan besar, meskipun ia sendiri memiliki kebutuhan dan masalah pribadi.

Kemudian pertanyaan yang terakhir adalah, apa yang bisa kita lakukan untuk membela Palestina? Nah, karena kita masih pelajar/mahasiswa, jabatan dan kekuasaan juga gak punya, mau ikut ke Gaza juga pastinya bakalan 'gak mudah' dapat akses kesana, setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan buat saudara-saudara kita di Palestina:

  1. Bantu mereka dengan do’a. Jangan pernah lupa untuk senantiasa memohon pertolongan Allah dan kemenangan bagi mereka dalam setiap bait-bait do’a kita, dalam shalat-shalat kita, dalam tiap munajat-munajat kita kepada Allah. Karena doa adalah senjata yang paling hebat bagi orang-orang beriman. “Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian.” (QS Ghafir: 60)
  2. Bantu mereka dengan harta kita. Mari sisihkan sebagian uang saku kita untuk saudara-saudara kita di Palestina, sekecil dan sesedikit apapun itu, insyaAllah akan sangat bermanfaat dalam membantu perjuangan mereka disana.
  3. Sebisa mungkin kita hindari untuk membelik produk-produk dari perusahaan yang berafiliasi kepada Amerika Serikat dan Israel. (info selengkapnya terkait daftar produk AS-Israel yang harus di boikot dapat diakses di alamat http://www.inminds.co.uk/boycott-brands.html ).
  4. Jangan pelit berbagi informasi terkait kondisi yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina, baik secara lisan, tulisan, dan melalui berbagai media serta beragam jejaring social yang ada. insyAllah dengan demikian kita juga telah turut mengambil peran dalam mengkampanyekan kemerdekaan Palestina kepada public. Allahu a’lam bishawab.
----------------------------------------------------------------
Oleh: Eko Priadi - Staff Kaderisasi KAMMI UIN Maliki Malang

Senin, 29 Oktober 2012

Idul Adha Lebih Bermakna Bersama Masyarakat

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat Idul Adha 1433 H, Taqobbalallahu minna waminkum, taqobbal yaa kariim
Melihat banyaknya kader KAMMI yang antusias dalam mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas) saat Idul Adha 1433 H berlangsung yang bekerja sama dengan berbagai lembaga kampus atau luar kampus, maka kami mengajak kader-kader KAMMI se-Malang Raya (UB, UIN, UM, UMM, Polinema, Kanjuruhan, Unisma, Blitar, Trenggalek, Tulungagung, dan Kediri) untuk mengikuti Sayembara Tulisan Kader dengan tema “Idul Adha Lebih Bermakna Bersama Masyarakat”.
Tulisan berisikan tentang cerita apa saja yang kader lakukan di tempat pengmas tersebut, hasil sharing kader dengan masyarakat sekitar, apa harapan kader untuk tempat tersebut, dan lain-lain (silakan berkreativitas). Banyak tulisan minimal 1 halaman A4 margin 3,2,2,2 Calibri 11pt spasi 1,5 dan tidak ada batas maksimalnya. Sertakan Identitas Penulis (nama lengkap, asal komisariat, universitas/fakultas/jurusan/angkatan, e-mail, dan no. HP) di bagian akhir setelah tulisan (diluar dari halaman tulisan). Adanya dokumentasi kegiatan berupa foto yang dilampirkan beserta keterangan foto menjadi nilai tambah dalam penilaian.
Kirimkan tulisan ke email pdmalang.kammi@gmail.com sampai tanggal 4 November 2012. Tulisan juga dapat kader publikasikan melalui FB, Twitter, Blog, dan sebagainya. Tersedia hadiah menarik bagi 5 pemenang berupa masing-masing buku “Saat Dakwah Memasuki Wilayah Politik” karya ustadz Abu Ridha (buku langka, salah satu buku dalam manhaj tugas baca kader KAMMI). Pengumuman insya Allah akan dipublikasikan paling cepat 5 November 2012 dan akan diinfokan juga langsung ke CP kader.
Ditunggu karya-karya tulisan kader KAMMI se-Malang Raya! :-)
                                                               
Oleh : Tim Humas PD KAMMI Malang (CP : 085646781267)

Minggu, 21 Oktober 2012

Pernyataan Sikap Untuk 8 Tahun Pemerintahan SBY di Bidang POLHUKAM


Pernyataan Sikap KAMMI ULUL ALAB 
Komisariat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 
Untuk 8 Tahun Pemerintahan SBY di bidang POLHUKAM 
Bismillahirrahmanirrahim
   KAMMI  sebagai bagian dari elemen masyarakat yang merasakan atas kebijakan-
kebijakan pemerintahan SBY dari masa 2004-2012. Hingga  saat ini, KAMMI masih belum 
merasakan adanya kebijakan-kebijakan yang sangat menguntungkan rakyat.  
  Tanggal 20 Oktober 2012  ini menjadi tanggal yang genap untuk pemerintahan SBY 
setelah 8 tahun memimpin Bangsa ini. Kebijakan-kebijakan SBY di bidang POLHUKAM, 
kami menilainya ada beberapa yang sangat merugikan rakyat Indonesia ini. Pertama, Adanya 
dua lembaga tertinggi yang hingga saat ini masih simpang siur terkait pembagian tugas. 
Birokrasi  tinggi ini ingin membuktikan kepada rakyat bahwa siapa yang lebih jago untuk 
menangkap korupsi. Dan akhirnya mereka saling sikut dan saling rebut tugas. Rakyat hanya 
disuguhi sinetron-sinetron tidak bermutu seperti  “Cicak vs Buaya”,  “Save KPK”, atau 
kemudian  “Save POLRI”.  Rakyat  Indonesia  yang masih buta terhadap dinamika politik 
akhirnya membuat seperti itu.  Isu  korupsi yang sebesar itu  menjadi terbengkalai.  Ini 
membuktikan bahwa pemerintahan SBY masih belum mampu mengharmoniskan tugas di 
pemerintahannya. SBY telah gagal untuk mengantisipasi terjadinya bentrokan tugas dari 
KPK dan POLRI.  
  Kedua, pemberian grasi hukum kepada Bandar-bandar narkotika justru melemahkan 
fungsi BNN yang sebagai badan penanggulangan narkoba. Kenapa kemudian melemahkan? 
Kita melihat BNN sangat rajin mengkampanyekan terkait  “Anti Narkoba  dan Narkotika”. 
Tapi  kemudian SBY memberikan grasi kepada  Bandar-bandar narkoba dan narkotika.  Ini 
hukum yang buat SBY tap dilanggar sendiri.  Contoh  presiden macam apa yang diberikan 
kepada rakyatnya jika memberikan kebebasan kepada Bandar narkotika.  Ini menjadi sebuah 
bukti bahwa sesungguhnya obat-obat terlarang itu boleh beredar di lingkungan masyarakat.  
  Ketiga, blok Mahakam  yang menyimpan gas bumi sebesar Rp. 1.700 triliun hingga 
saat ini masih dalam pertimbangan kira-kira siapa yang bakal mendapatkannya.  Dalam 
statemen wakil menteri ESDM mengatakan “Perusahan manapun, baik milik negara ataupun 
asing, yang menguntungkan negara akan diberi hak untuk mengelola Blok Mahakam.” 
Presiden SBY seharusnya sadar, jangan sampai kasus Freeport itu kembali muncul di Mahakam. Ini  masalah keamanan negara yang dipertaruhkan.  Jangan  sampai  Mahakam 
mencari korban lagi.  Kasus  penembakan di Freeport sudah menjadi banyak bukti bahwa 
keamanan di Indonesia tidak akan selamanya aman jika masih ada pihak-pihak luar yang 
hidup dan mengisap darah rakyat di Indonesia ini. 
  Menyikapi hal tersebut, maka Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia(KAMMI) 
Ulul Albab menyatakan sikap sebagai berikut : 
1.  Agar  SBY segera melakukan reformasi di bidang birokrasi dan menegaskan peran 
antara KPK dengan POLRI. Dan agar kedua lembaga tersebut segera mengusut tuntas 
korupsi yang ada di Indonesia saat ini. 
2.  Agar  SBY lebih tegas lagi dalam mengambil sikap hukum yang jelas.  Rakyat 
menginginkan pemimpin yang lugas, tegas dan jelas.  Bukan  presiden yang banyak 
curhat dan tidak  tegas dalam menangani hukum. Dan  SBY sebagai presiden harus 
menjadikan contoh yang baik dalam mengambil keputusan dan tidak plin-plan. 
3.  Agar SBY menyuruh kepada Pertamina agar mengelola blok Mahakam yang ada di 
Kalimantan. Asset berharga harus dikelola oleh anak bangsa. Gas bumi yang  senilai 
Rp. 1700 triliun jika dikelola dengan baik maka hutang di Indonesia akan segera 
terlunasi. Cabut semua hak-hak lembaga asing yang masih bercokol di Indonesia. 



Malang, 20 Oktober 2012 
Hormat kami, 


Muhammad Syaifullah Robbani 
Ketua Umum KAMMI “ULUL ALBAB” Komsat UIN Maliki Malang 


CP : Juanto Indra Mustofa (kadep.  Kebijakan  Publik KAMMI  “ULUL ALBAB” Komsat 
UIN Maliki Malang/083848284664)

Rabu, 17 Oktober 2012

Apa Jawabmu Ketika Ditanya Tentang KAMMI?

Sore itu, salah seorang akhwat megnhampiri sebuah stand yang bertuliskan KAMMI, DAUROH MARHALAH I. disitu dia menebar senyum, menyapa saudara2 nya, menyalami tangan-tangan mereka, saling menempelkan kedua pipi diantara mereka dengan berucap., assalamualaikum, dan lawan bicaranya pun menjawab dengan tak kalah lembut, waalaikumsalam..

betapa indah hubungan yang diakrabkan iman diantara mereka.Alloh lah menyatukan mereka. hingga membuat semua yang melihatnya iri dalam ketulusan jenak-jenak kesederhanaan yang dihadirkan, karena bukan status ataupun harta yang menyatukan mereka.

lalu dengan lugas akhwat itu bertanya, "berapa peserta akhwat yang sudah daftar? boleh lihat daftarnya?"

lawan bicaranya pun memberikan buku pendaftaran yang dimaksud si akhwat. dia mencari salah satu nama yang sangat dikenalnya, adek mentoring yang selama ini dibinanya dengan sabar. tapi ia tak menemukannya?ia cari sekali lagi, tapi yang ada nihil, ia tetap tak menemukannya.akhirnya ia memutuskan untuk SMS, "adek kok belum daftar KAMMI ?"begitu kita-kira bunyi SMS nya,tak lama kemudian HP nya bergetar, ada jwabn atas pertanyaanya" adek, gak terlalu tahu tentang KAMMI mbak, menurut mbak apa ana harus daftar KAMMI?

si akhwat bingung harus menjawab apa, akhirnya dia memutuskan untuk bertanya kembali" adek ingin mbak menjawab seperti apa? layaknya murobbiyah antum, atau sebagai sahabat antum?atau sebagai slah satu panitia?

"ana ingin keduanya mbak, murobbiyah dan sahabat" begitu jawabnya

dengan bimbang si akhwat mulai menuliskan SMS jwaban yang akan di sampaikannya, ia tak ingin ada nafsu sedikitpun dalam dirinya, ia tak ingin dalam SMS nya terkandung kata provokasi, membuat anak binaannya tak bisa berpikir jernih hingga memutuskan dengan terpaksa dan yang terpenting dia ingin binaannya menerima konsekuensi ketika masuk dalam jamaah ini. mulai lah disusun SMS itu, jika tidak salah bgini SMS nya
"ana akn menjawab sebagai sahabat antum, bismillah. semoga Alloh menutun tangan ini untuk menyampaikan yang selayaknya tersampaikan. KAMMI adalah organisasi yang baik, walaupun bukan yang terbaik. kenapa?karena ana belum pernah menemukan di organisasi lain yang kedekatan ukhuwah di dalamnya yang bukan terlahir karna status sosial dan harta, karena ana belum pernah menemukan di dalamnya setiap bertemu mengucap salam dan mengajak pada kebaikan, karena ana belum pernah menemukan kekurangan yang saling dilengkapinya dengan kelebihan-kelebihan sahabat yang lain, maka ana ingin sebagai sahabat antum, agar antum merasainya.

lalu dikirimnya sms itu, dia telah pasrah jawabn yang akan di dapatnya setelah itu.tak lama kemudian telah di dapatnya jawban SMS dari seberang
"antum tetap melankolis^_^, itu yang membuat ana ingin selalu berada di samping antum, dan ana tahu di balik sikap antum ada teman-teman yang baik yang selalu mengerti dan saling memahami.tapi maaf mbak, ana sudah di I_M_, ana takut tidak fokus.kata ketua ana, ana g boleh masuk KAMMI. tapi ana tetap ingin mendapat jwabn antum dari prtanyaan ana yang ini.mohon bimbingannya" begitulah kira-kira jawabnya. sang akhwat hanya tersenyum kecut, sedikit kecewa pasti. tapi ia tahu bhwa harta sekalipun takkan mampu mengubah hati manusia kecuali Alloh yang berkendak.ditariknya nafas dalam-dalam dan dia mulai mengetikkan kembali SMS jawaban yang akan dikirimnya.

"kali ini mbak berposisi ebagai murobbiyah,bismillah. tidak pernah ada kata mendua di jalan dakwah, di I_M_ tetap harus berjalan, tapi antum harus punya benteng yang menguatkan, antum bisa dapatkan itu dari KAMMI. di situ antum akan ditempa dan di tarbiyah. disitu antum akan dikuatkan melalui program yang ada. tetaplah di I_M_. salah ketika antum mengira mbak akan memaksa antum keluar dari sana setelah bergabung di KAMMI, karena itu ladang dakwah antum. anak KAMMI jika hanya di KAMMI lebih baik keluar, apagunanya. berdakwah dikalangan orang-orang yang sudah notabene faham syariat. maka aktiflah di manapun. tapi tetap konsisten di KAMMI.dijalankan semua program yang ada. bukan berarti ketika antum tidak tergabung dalam KAMMI antum tetap bisa berada di I_M_ dengan baik. biarkan yang menjaga Alloh. antum takkan pernah bisa mnjaganya. dengan catatan kau juga harus menjagaNya. bhkan yang menjaga hubungan kita selama ini bukan harta dan kedudukan, melainkan Alloh sendiri yang menjaga hati-hati kita. dikirimnya SMS itu dua kali untuk mencukupi layar SMS.

lama tetap tak nampak balsan SMS, waktu terus berjalan dengan cepat, sudah lima jam tetap tak ada balasan.diambang pintu kekhawatirannya tiba-tiba SMS balasan masuk selepas ia melakukan sholat magrib.di bacanya dengan hati-hati"mbak bayar daftar nya berapa? KAMMI tentang politik ya?orang-orangnya suka kekuasaan?"

dibalsanya kembali SMS itu" iya, tentang siyasi.mbak gak bisa jwab petanyaan antum dek, yang ana tahu mereka rindu kedamaian.terselip maksud yang lain ana tidak tahu, tapi tidak pernah terselip kekuasaan di hati mbak selama dpat pendidikan terkait politik. jika akhirnya memang ada mbak harap antum yang akan merubahnya kelak, ditataran negara maupun lingkungan sekitar"

"amin, ana ikut. insyaAlloh.

senyumnya kembali bisa melegakan dadanya,"ilmu Alloh hanya akan di berikan kepada orang-orang bercahaya,siapa mereka? yang ia menjaga sholatnya, berpuasa sunnah dan selalu basah bibirnya dengan tilawah dan dzikir, yang selalu menghidupkan mlamnya dengan tahajjud dan menhirup paginya dengan dhuha..itulah yang kita ingin istiqomahkan. perhatian jasadiah, fiqriyah dan ruhiyah yang berusaha diberikan pada seluruh kader KAMMI. insyaAlloh begitu dek. " dikirimnya kembali SMS itu untuk menguatkan.

jika aku atau kamu yang ditanya, mungkin jwabnya akan lebih baik lagi kwan.. .karena kita sudah belajar dari sang akhwat yang mungkin terdapat kesalahan  yang harus nya tak tersampaikan dalam kalimat smsnya dan bagaimana ia harusnya  bersikap.

Writed by : Kartika Sari Rukana Dewi

Ketika Srikandi Muslimah Berucap Sumpah Pemuda


Banyak statemen dari orang awam mengatakan.
"Wanita berjilbab lebar itu kerjaannya dakwah melulu"
"Hati - hati ya sama cewek berjilbab lebar, yang tiap hari bawaannya khilafah dan dakwah. Nggak setuju kali ya sama sistem pemerintahan di Indonesia"
"Eh...itu cewek jilbabnya lebar banget.... alirannya kayaknya ekstrim, idih...serem ah"

Sebagai seorang yang mengenal hijab dan saya merasa diri saya termuliakan derajatnya dengan adanya jilbab panjang.Saya hanya tersenyum saja mendengar celotehan tak jelas mereka, karena saya faham sedangkan mereka tidak faham.
Benarkah kita hanya mengaji, berdakwah, dan menggembar gemborkan khilafah Islamiyah saja?Tentu saja tidak teman...... di dalam pemahaman kami bukan seperti itu. Karena kami memahami bahwa Islam itu Syumul. Islam adalah agama yang sempurna dan menyentuh seluruh elemen kehidupan. Salah satunya adalah moment Sumpah Pemuda saat ini, tepat saat tanggal 16 Oktober 2012.
Memutar memoar perjuangan para pemuda Indonesia jaman dulu :

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928


Begitu besar ghiroh perjuangan yang mereka lakukan untuk kemerdekaan Indonesia. Dan Islam tidak pernah mengabaikan perjuangan mereka. Bahkan telah mengapresiasikan akan kemuliaan perjuangan dan semangat mereka jauh - jauh hari sebelum mereka ada di dalam Al Quran :
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash-Shaf, 61:4)

Sebagai seorang muslimah, apa yang dapat kita lakukan untuk meneruskan cita - cita para pencetus sumpah pemuda??
Banyak sekali hal yang telah dilakukan oleh para akhwat berjilbab lebar, untuk meneruskan cita - cita para pencetus sumpah pemuda. Berbekal ilmu dan iman yang mendalam, figur - figur akhwat yang tangguh, cerdas, militan, dan intelektual profetik bertebaran dimana - mana dengan segudang prestasi yang di gondolnya, diantaranya :
  • Asma Nadia, ibu rumah tangga dengan 2 anak. Penulis novel dan cerpen Islami, Ketua III Forum Lingkar Pena Nasional.Menurutnya, muslimah dalam hidupnya hendaknya mengibaratkan dirinya sebagai sebuah kristal. Artinya, muslimah sebaiknya mampu berbuat dengan sebaik-baiknya dalam berbagai sisi dengan masing-masing sisi bernilai baik. Sebagai istri pelayanannya kepada suami memuaskan. Sebagai ibu bagi anak-anaknya, dia perhatian. Dan sebagai pekerja, prestasi kerjanya bagus dan sebagai apa saja muslimah itu menekuninya dengan kesungguhan yang luar biasa. Sebagaimana kristal yang dalam setiap sisinya memantulkan cahaya sama indahnya (Hasil wawancara Humaira saat GBSM 2 di Samarinda).
  • Oki Setiana Dewi, Sosok ini begitu inspiratif dengan karya dan prestasi, cerdas dengan IP 3,9, bersahaja, sholehah, lulusan sastra Belanda UI ini  juga punya semangat yang tinggi untuk menjadi muslimah hebat. ia juga punya motto yang sangat bagus, yaitu bagaimana menjadi orang yang bermanfaat buat orang lain. Karena itu, ia tak segan untuk mengajar mengaji di Lapas Wanita Tangerang seminggu sekali. Hal ini lah yang menjadi awal kesuksesannya dan bagaimana dia dicintai banyak orang.
  • Ummi Yoyoh Yusroh (alm), Seorang mujahidah dakwah, ustadzah,dan muballighoh. Masyarakat banyak  mengenalnya sebagai Anggota DPR RI dari Fraksi PKS yang sangat gigih memperjuangkan RUU pornografi. Usulan cerdas beliau tentang kemungkinan tentara TNI wanita berjilbab juga menarik banyak pihak untuk mencermati langkah beliau. Keterlibatannya di kerja dewan sejak tahun 1999 tidak menyurutkan langkahnya dalam dakwah dan tarbiyah di tengah masyarakat. Taujihat dan ceramahnya senantiasa dinanti setiap kader dakwah khususnya akhwat muslimat.
  • dan masih banyak lagi contoh akhwat berprestasi yang tidak cukup saya sebutkan satu persatu siapakah mereka di dalam tulisan ini.

Lalu bagaimana dengan kita?? masih tetapkah berdiri mematung menunggu sebuah perubahan yang tak pasti. Ayo...marilah kawan....muslimah yang tangguh dan sholihah. Kita buktikan pada mereka bahwa kita adalah seorang yang apresiatif terhadap makna kata demi kata dari teks sumpah pemuda. Kita muslimah dan kita juga seorang pemuda. Kita merasa memiliki sumpah itu dan berhak meneruskan cita - cita dari sumpah itu, kita teruskan cita - cita pemuda jaman dulu dengan cara kita sendiri. Yang Insya Allah akan mendongkrak berubahan tidak hanya untuk politik, ekonomi, dan sosial negeri Indonesia saja, tapi juga untuk ketawazunan segala aspek di alam raya ini. Allahhu Akbar! Bismillah..... mari kita bergerak!!

Writed By : Lathifah (PEH)

Sumpah Pemuda di Mataku, Wanita Indonesia


Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Selalu ada wacana riil saat kita mulai memperbincangkan eksistensi kaum muda yaitu keberadaan mereka sebagai generasi pewaris estafet kehidupan. Kaum muda adalah motor yang akan menguhubungkan eksistensi masyarakat kini dan yang akan datang. Bertolak dari momentum historis Sumpah Pemuda sebagai inspirasi kehidupan kaum muda dan segenap bangsa saat ini, maka perlu dipahami bahwa peringatan Sumpah Pemuda setiap tahun bukanlah sekedar untuk romantisme sejarah.begitu kata kartika sari rukmana dewi, seorang mahasiswi tarbiyah jurusan PAI.^_^(iki narsis, masyaAlloh...)

Kalau ditelaah dari tiap fase ke fase terjadi distansi yang dari era kebangkitan nasional. Budi Utomo 1908 menuju Sumpah Pemuda 1928, diperlukan waktu 20 tahun guna membangun kebudayaan pemuda baru. Kemudian dibutuhkan waktu 17 tahun bagi kelahiran pemuda proklamator 1945. Selanjutnya, 21 tahun kemudian terlahirlah generasi mendirikan rezim Orde Baru 1966. kita pun membutuhkan waktu sekitar 32 tahun untuk memunculkan generasi pemuda yang mampu merintis lahirnya masa Reformasi, dengan aksi demonstrasi besar-besaran mahasiswa dalam menjatuhkan rezim otoriter Orde Baru untuk mengusung gerbong reformasi dengan demokrasi. Sebuah karya yang tidak kalah monumentalnya jika dibandingkan dengan karya kaum muda di era 1928. Bagaimana dengan kiprah kaum muda kita masa kini?

dalam ikrar sumpah pemuda bertuliskan kami putra putri indonesia bertanah air yang satu, tapi anehnya kini. kita lebih bangga dengan bangsa yang lain. kita lebih bangga berpakaian layaknya kebarat2an. lebih bangga disebut jagoan karena mampu menghancurkan sesama anak bangsa dalam tawuran yang terjadi beberapa bulan yang lalu antara dua SMA yang terjadi di Jakarta. aris musnandar dalam artikel nya yang berjudul antara harapan dan kenyataan mengatakan:

"Setelah 83 tahun berlalu bagaimana kondisi bangsa Indonesia? Kita melihat perilaku manusia Indonesia disana sini tereduksi dengan sifat-sifat tercela yang merebak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini merupakan bukti telah terjadinya dekadensi moral. Fenomena perilaku kekerasan, tawuran, pemerkosaan, KDRT, bullying di sekolah hingga tindak korupsi tiada henti merupakan tanda bahwa negara mengalami persoalan berat & akut.
Dari waktu ke waktu aksi-aksi brutal dan kriminal anak muda (pemuda) menghiasi halaman surat kabar dan media elektronik. Sementara elite pejabat yang semsetinya dapat mengatasi persoalan sosial masyarakat tak jarang melakukan perbuatan tercela dan melanggar hukum.  Bahkan menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Betapa kita saksikan ratusan elite DPR, eksekutif hingga yudikatif telah merasakan "Hotel Prodeo". Mereka yang tadinya diharapkan dapat dijadikan panutan malah menjadi lelucon politik. Tingkat kesejahteraan materi para elite berada jauh diatas rata - rata rakyat Indonesia yang hanya berpenghasilan US$ 2 / hari atau kurang dari 600 ribu rupiah per bulan (beradasarkan standar PBB tentang kemiskinan).
Pemuda dalam siklus hidup seorang manusia merupakan sebuah masa dimana seseorang mengeksplorasi dirinya. Semangat yang menggebu-gebu dan tekad yang membara identik dengan seorang pemuda. Itulah gambaran seorang pemuda. Sebagai aktor sosial perubahan, pemuda bukan saja menyandang status sebagai pemimpin masa depan, tetapi juga sebagai tulang punggung bangsa dalam mengisi pembangunan.
Jika berbicara mengenai pemuda, tentu erat kaitannya dengan perkembangan sejarah bangsa Indonesia. Generasi pemudaIndonesia selalu memberikan warna tersendiri bagi perjalanan bangsa ini. Goresan sejarah bangsa Indonesia tidak akan pernah luput dari lembaran sejarah kepemudaanya (Benedict Anderson, 1990).

lalu dimanakah kita?? sumpah pemuda bukan hanya nostalgia indah masa lalu, namun ia menuntut sebuah kerja-kerja emas dari masa ke masa..karena cinta indonesia brarti menuntu sebuah bukti NYATA.

Writed by : Kartika Sari Rukmana Dewi