Rabu, 17 Oktober 2012

Sumpah Pemuda di Mataku, Wanita Indonesia


Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Selalu ada wacana riil saat kita mulai memperbincangkan eksistensi kaum muda yaitu keberadaan mereka sebagai generasi pewaris estafet kehidupan. Kaum muda adalah motor yang akan menguhubungkan eksistensi masyarakat kini dan yang akan datang. Bertolak dari momentum historis Sumpah Pemuda sebagai inspirasi kehidupan kaum muda dan segenap bangsa saat ini, maka perlu dipahami bahwa peringatan Sumpah Pemuda setiap tahun bukanlah sekedar untuk romantisme sejarah.begitu kata kartika sari rukmana dewi, seorang mahasiswi tarbiyah jurusan PAI.^_^(iki narsis, masyaAlloh...)

Kalau ditelaah dari tiap fase ke fase terjadi distansi yang dari era kebangkitan nasional. Budi Utomo 1908 menuju Sumpah Pemuda 1928, diperlukan waktu 20 tahun guna membangun kebudayaan pemuda baru. Kemudian dibutuhkan waktu 17 tahun bagi kelahiran pemuda proklamator 1945. Selanjutnya, 21 tahun kemudian terlahirlah generasi mendirikan rezim Orde Baru 1966. kita pun membutuhkan waktu sekitar 32 tahun untuk memunculkan generasi pemuda yang mampu merintis lahirnya masa Reformasi, dengan aksi demonstrasi besar-besaran mahasiswa dalam menjatuhkan rezim otoriter Orde Baru untuk mengusung gerbong reformasi dengan demokrasi. Sebuah karya yang tidak kalah monumentalnya jika dibandingkan dengan karya kaum muda di era 1928. Bagaimana dengan kiprah kaum muda kita masa kini?

dalam ikrar sumpah pemuda bertuliskan kami putra putri indonesia bertanah air yang satu, tapi anehnya kini. kita lebih bangga dengan bangsa yang lain. kita lebih bangga berpakaian layaknya kebarat2an. lebih bangga disebut jagoan karena mampu menghancurkan sesama anak bangsa dalam tawuran yang terjadi beberapa bulan yang lalu antara dua SMA yang terjadi di Jakarta. aris musnandar dalam artikel nya yang berjudul antara harapan dan kenyataan mengatakan:

"Setelah 83 tahun berlalu bagaimana kondisi bangsa Indonesia? Kita melihat perilaku manusia Indonesia disana sini tereduksi dengan sifat-sifat tercela yang merebak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini merupakan bukti telah terjadinya dekadensi moral. Fenomena perilaku kekerasan, tawuran, pemerkosaan, KDRT, bullying di sekolah hingga tindak korupsi tiada henti merupakan tanda bahwa negara mengalami persoalan berat & akut.
Dari waktu ke waktu aksi-aksi brutal dan kriminal anak muda (pemuda) menghiasi halaman surat kabar dan media elektronik. Sementara elite pejabat yang semsetinya dapat mengatasi persoalan sosial masyarakat tak jarang melakukan perbuatan tercela dan melanggar hukum.  Bahkan menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Betapa kita saksikan ratusan elite DPR, eksekutif hingga yudikatif telah merasakan "Hotel Prodeo". Mereka yang tadinya diharapkan dapat dijadikan panutan malah menjadi lelucon politik. Tingkat kesejahteraan materi para elite berada jauh diatas rata - rata rakyat Indonesia yang hanya berpenghasilan US$ 2 / hari atau kurang dari 600 ribu rupiah per bulan (beradasarkan standar PBB tentang kemiskinan).
Pemuda dalam siklus hidup seorang manusia merupakan sebuah masa dimana seseorang mengeksplorasi dirinya. Semangat yang menggebu-gebu dan tekad yang membara identik dengan seorang pemuda. Itulah gambaran seorang pemuda. Sebagai aktor sosial perubahan, pemuda bukan saja menyandang status sebagai pemimpin masa depan, tetapi juga sebagai tulang punggung bangsa dalam mengisi pembangunan.
Jika berbicara mengenai pemuda, tentu erat kaitannya dengan perkembangan sejarah bangsa Indonesia. Generasi pemudaIndonesia selalu memberikan warna tersendiri bagi perjalanan bangsa ini. Goresan sejarah bangsa Indonesia tidak akan pernah luput dari lembaran sejarah kepemudaanya (Benedict Anderson, 1990).

lalu dimanakah kita?? sumpah pemuda bukan hanya nostalgia indah masa lalu, namun ia menuntut sebuah kerja-kerja emas dari masa ke masa..karena cinta indonesia brarti menuntu sebuah bukti NYATA.

Writed by : Kartika Sari Rukmana Dewi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar