Senin, 10 Desember 2012

Palestina, Nasibmu Kini Siapa Peduli ?

Palestina. Apa yang terbayang di benak kita jika mendengar kata tersebut? Pasti pikiran kita akan melayang ke sebuah negeri dimana terdapat Masjid Al-Aqsha, tempat Isra’ dan Mi’rajnya Rasulullah SAW, sekaligus merupakan qiblat pertama ummat muslim dalam melaksanakan shalat, lebih kurang delapan belas bulan lamanya. Nah, tahukah anda gimana keadaan di Palestina sekarang?

Yup, beberapa waktu yang lalu dunia dihebohkan dengan kabar mengerikan tentang agresi militer Israel ke Gaza, Palestina. Hampir seluruh media massa, baik cetak maupun elektronik memberitakannya, dan ummat muslim di penjuru duniapun bereaksi dengan melakukan aksi solidaritas, mengecam, mengutuk kebrutalan pasukan zionis Yahudi, sampai menggalang bantuan dana untuk membantu para korban perang Palestina, bahkan tak terkecuali hingga di pelosok nusantara pun melakukan hal yang sama.

Pada 14 November lalu, untuk kesekian kalinya Zionis Israel menggempur Gaza dengan serangan udara dan laut. Selama delapan hari penuh Israel menghujani wilayah Gaza dengan rudal dan mortir hingga menewaskan 166 warga sipil, diantaranya terdapat 43 anak-anak dan 13 wanita, serta 1235 orang lainnya luka-luka. Kerugian materil akibat serangan Israel ini juga tidak tanggung-tanggung, total kerugiannya mencapai angka USD 1 Miliar atau sekitar Rp. 9,6 Triliun (www.news.detik.com). Dengan sengaja dan penuh kesadaran mereka mengarahkan serangan kepada warga sipil, wanita dan anak-anak. Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang keji.

Namun begitu, bukan berarti rakyat Palestina hanya berdiam diri, pasrah dengan kebrutalan dan kezaliman Zionis Israel, sekali lagi tidak! Para mujahidin yang tergabung dalam Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer HAMAS, melakukan pembalasan yang tak kalah sengit. Ribuan roket mereka luncurkan ke berbagai wilayah Israel, bahkan beberapa diantaranya mampu menjangkau kota Tel Aviv, ibukota Israel yang berjarak 80 km dari Gaza, meski telah dilindungi oleh system pengaman anti rudal yang tercanggih di dunia, Iron Dome. Bahkan roket-roket Gaza yang notabene adalah produk dalam negeri, dan dibuat dari barang rongsokan, atas pertolongan Allah telah mampu pula menjatuhkan pesawat tempur F-16, helicopter Apache dan menghantam kapal perang milik Israel (lihat di www.metrotvnews.com, http://liputankita.com, dan http://indonesian.irib.ir).

Akhirnya, dengan menanggung rasa malu dan kehinaan, pada Rabu (21/11/2012)  Israel menyepakati gencatan senjata dengan HAMAS yang difasilitasi oleh Mesir, dan menerima semua persyaratan yang diajukan oleh pihak Palestina, salah satunya adalah mengakhiri blokade di jalur Gaza yang telah berlangsung puluhan tahun. Dan yang lebih menggembirakan lagi, melalui Sidang Majelis Umum PBB  pada Kamis (29/11/2012) lalu sebanyak 138 negara anggota PBB telah mengakui Palestina sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat ( lihat di www.antaranews.com, http://internasional.tvonenews.tv, dan http://international.sindonews.com). Ini merupakan kekalahan telak bagi Zionis Israel dan kroni-kroninya, serta merupakan kemenangan besar bagi bangsa Palestina dan ummat Muslim pada umumnya.

Nah, sekarang pertanyaannya adalah, kenapa konflik antara dua kubu ini selalu saja terulang? Banyak analisa yang telah dikemukakan oleh para ahli dan pengamat, mulai dari sudut pandang politik, ekonomi, social-budaya, dan militer. Namun jauh-jauh hari, lebih dari 14 abad yang lalu Allah swt telah memperingatkan kepada kita, “Sesungguhnya orang-orang yahudi dan nasrani itu tidak akan pernah ridha terhadap kalian (ummat muslim), sampai kalian mengikuti millah (agama, budaya, gaya hidup, perilaku dan kemauan) mereka” (QS 2:120). Dan dalam ayat yang lain Allah swt juga berfirman, “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik…” (QS. 5 : 82).

Dari penjelasan al-Quran di atas, dapatlah kita pahami bahwa sesungguhnya factor agama menjadi sebab dominan perseteruan abadi antara Yahudi dan Muslim. Dan kalau kita menyempatkan diri untuk membaca Sirah Nabawiyah, akan kita dapati bagaimana kebencian, permusuhan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh kaum Yahudi di Madinah terhadap Rasulullah saw dan para pengikut beliau. Jadi intinya, peperangan seperti ini merupakan realitas sejarah yang akan terus berulang hingga akhir zaman. Itu dalam konteks global. Namun dalam konteks perang Zionis Israel-Palestina, faktor historis-ideologis cukup kental mempengaruhinya.

Di satu sisi, pihak Zionis Israel mengklaim bahwa Palestina merupakan 'tanah yang dijanjikan' bagi bangsa Yahudi, yang akan menjadi negeri mereka, dimana mereka akan membangun kembali 'Kuil Sulaiman' yang menjadi simbol kejayaan bangsa Yahudi. Sehingga konsekwensi dari keyakinan ini adalah mereka harus menduduki tanah itu dan merampas hak-hak rakyat Palestina. Di sisi lain, dalam hati setiap muslim telah tertancap keyakinan dan kecintaan yang mendalam terhadap tanah Palestina dimana terdapat di dalamnya Masjid Al-Aqsha, bahwa itu adalah tanah suci yang diberkahi, bumi para nabi, tempat Isra' Mi'rajnya Rasulullah saw, kiblat pertama ummat muslim dalam melaksanakan shalat. Disamping memang secara de facto dan de jure tak dapat dipungkiri lagi bahwa rakyat Pelestina adalah pemilik sah 'tanah yang dijanjikan' itu, karena mereka sudah tinggal disana sejak ratusan tahun, jauh sebelum para imigran Yahudi berbondong-bondong menjajah dan mengusir mereka dari tanah kelahirannya. Dua interest inilah yang menyebabkan konflik Zionis Israel-Palestina akan terus mengabadi sepanjang zaman. Skenario endingnya hanya dua; Israel hengkang dan Palestina menguasai seluruh wilayahnya, atau masing-masing pihak rela melepaskan sebagian interestnya dengan menerima resolusi dua negara, Palestina separuh wilayah dan Israel separuh wilayah.

Pertanyaan berikutnya, ngapain kita harus repot-repot membantu dan mengurusi permasalahan Palestina? Emang urusannya sama kita apa? Toh di Indonesia sendiri juga masih banyak masalah pelik yang harus dipikirkan? Setidaknya, ada beberapa alasan kenapa kita harus ‘membela’ Palestina: Pertama, karena bangsa Palestina adalah saudara kita, saudara seiman, saudara seagama, saudara sesama manusia. Bukankah Allah swt telah menetapkan bahwa”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara..” (QS 49:10). Dan Rasulullah saw pun tak lupa mengingatkan kita bahwa “Orang-orang mukmin itu ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka sekujur tubuh akan ikut merasakan sakit..” (HR.Muslim). Sebagai saudara yang baik, maka sudah seharusnyalah bagi kita untuk membela, membantu, turut merasakan penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina. Bahkan kata Rasulullah saw, "Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri" (HR. Bukhari).

Kedua, Palestina merupakan salah satu Negara yang gigih mendukung kemerdekaan Indonesia di kancah Internasional pada masa awal proklamasi kemerdekaan dulu. Dukungan Palestina ini diwakili oleh mufti besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini yang secara terbuka mendukung kemerdekaan Indonesia pada 6 September 1945, yang kemudian disebarluaskan selama dua hari berturut-turut oleh Radio Berlin berbahasa Arab, dan juga dimuat oleh Harian Al-Ahram, koran nasional Mesir. Selain itu, Muhammad Ali Taher, seorang saudagar kaya Palestina juga secara spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia dan berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia”. Setelah itu dukungan mengalir, di jalanan Palestina terjadi gelombang demonstrasi untuk solidaritas dan dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah (lihat di http://fimadani.com dan http://blog.umy.ac.id/2012/11/17). Jadi secara tidak langsung Indonesia pernah berhutang budi kepada Palestina atas dukungan politiknya dalam membela kemerdekaan Indonesia.

Kemudian yang ketiga, memperjuangkan kemerdekaan Palestina merupakan amanat konstitusi, sebagaimana dinyatakan dalam pembukaan UUD 1945 alinea pertama, "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Oleh sebab itu, sebagai warga Negara yang baik, maka menjadi kewajiban kita untuk melaksanakan amanat dari konstitusi Negara kita.

Dan yang keempat, jangan sampai kita menjadi orang-orang yang ‘kerdil’, yang hanya memikirkan dirinya sendiri, yang hanya mengurusi masalahnya sendiri. Tapi jadilah orang ‘besar’, yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tapi juga memikirkan orang lain. Karena setiap Muslim harus bermental pemimpin, harus berusaha untuk menanggung beban orang lain. Karena Islam mengajarkan kita untuk menjadi orang ‘besar’, yang berpikir besar dan mengurusi pekerjaan-perkerjaan besar, meskipun ia sendiri memiliki kebutuhan dan masalah pribadi.

Kemudian pertanyaan yang terakhir adalah, apa yang bisa kita lakukan untuk membela Palestina? Nah, karena kita masih pelajar/mahasiswa, jabatan dan kekuasaan juga gak punya, mau ikut ke Gaza juga pastinya bakalan 'gak mudah' dapat akses kesana, setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan buat saudara-saudara kita di Palestina:

  1. Bantu mereka dengan do’a. Jangan pernah lupa untuk senantiasa memohon pertolongan Allah dan kemenangan bagi mereka dalam setiap bait-bait do’a kita, dalam shalat-shalat kita, dalam tiap munajat-munajat kita kepada Allah. Karena doa adalah senjata yang paling hebat bagi orang-orang beriman. “Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian.” (QS Ghafir: 60)
  2. Bantu mereka dengan harta kita. Mari sisihkan sebagian uang saku kita untuk saudara-saudara kita di Palestina, sekecil dan sesedikit apapun itu, insyaAllah akan sangat bermanfaat dalam membantu perjuangan mereka disana.
  3. Sebisa mungkin kita hindari untuk membelik produk-produk dari perusahaan yang berafiliasi kepada Amerika Serikat dan Israel. (info selengkapnya terkait daftar produk AS-Israel yang harus di boikot dapat diakses di alamat http://www.inminds.co.uk/boycott-brands.html ).
  4. Jangan pelit berbagi informasi terkait kondisi yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina, baik secara lisan, tulisan, dan melalui berbagai media serta beragam jejaring social yang ada. insyAllah dengan demikian kita juga telah turut mengambil peran dalam mengkampanyekan kemerdekaan Palestina kepada public. Allahu a’lam bishawab.
----------------------------------------------------------------
Oleh: Eko Priadi - Staff Kaderisasi KAMMI UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar