Palestina. Apa yang terbayang di benak kita jika mendengar kata
tersebut? Pasti pikiran kita akan melayang ke sebuah negeri dimana
terdapat Masjid Al-Aqsha, tempat Isra’ dan Mi’rajnya Rasulullah SAW,
sekaligus merupakan qiblat pertama ummat muslim dalam melaksanakan
shalat, lebih kurang delapan belas bulan lamanya. Nah, tahukah anda
gimana keadaan di Palestina sekarang?
Yup, beberapa waktu yang lalu dunia dihebohkan dengan kabar
mengerikan tentang agresi militer Israel ke Gaza, Palestina. Hampir
seluruh media massa, baik cetak maupun elektronik memberitakannya, dan
ummat muslim di penjuru duniapun bereaksi dengan melakukan aksi
solidaritas, mengecam, mengutuk kebrutalan pasukan zionis Yahudi, sampai
menggalang bantuan dana untuk membantu para korban perang Palestina,
bahkan tak terkecuali hingga di pelosok nusantara pun melakukan hal yang
sama.
Pada 14 November lalu, untuk kesekian kalinya Zionis Israel
menggempur Gaza dengan serangan udara dan laut. Selama delapan hari
penuh Israel menghujani wilayah Gaza dengan rudal dan mortir hingga
menewaskan 166 warga sipil, diantaranya terdapat 43 anak-anak dan 13
wanita, serta 1235 orang lainnya luka-luka. Kerugian materil akibat
serangan Israel ini juga tidak tanggung-tanggung, total kerugiannya
mencapai angka USD 1 Miliar atau sekitar Rp. 9,6 Triliun (
www.news.detik.com).
Dengan sengaja dan penuh kesadaran mereka mengarahkan serangan kepada
warga sipil, wanita dan anak-anak. Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang
keji.
Namun begitu, bukan berarti rakyat Palestina hanya berdiam diri,
pasrah dengan kebrutalan dan kezaliman Zionis Israel, sekali lagi tidak!
Para mujahidin yang tergabung dalam Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap
militer HAMAS, melakukan pembalasan yang tak kalah sengit. Ribuan roket
mereka luncurkan ke berbagai wilayah Israel, bahkan beberapa diantaranya
mampu menjangkau kota Tel Aviv, ibukota Israel yang berjarak 80 km dari
Gaza, meski telah dilindungi oleh system pengaman anti rudal yang
tercanggih di dunia, Iron Dome. Bahkan roket-roket Gaza yang notabene
adalah produk dalam negeri, dan dibuat dari barang rongsokan, atas
pertolongan Allah telah mampu pula menjatuhkan pesawat tempur F-16,
helicopter Apache dan menghantam kapal perang milik Israel (lihat di
www.metrotvnews.com,
http://liputankita.com, dan
http://indonesian.irib.ir).
Akhirnya, dengan menanggung rasa malu dan kehinaan, pada Rabu
(21/11/2012) Israel menyepakati gencatan senjata dengan HAMAS yang
difasilitasi oleh Mesir, dan menerima semua persyaratan yang diajukan
oleh pihak Palestina, salah satunya adalah mengakhiri blokade di jalur
Gaza yang telah berlangsung puluhan tahun. Dan yang lebih menggembirakan
lagi, melalui Sidang Majelis Umum PBB pada Kamis (29/11/2012) lalu
sebanyak 138 negara anggota PBB telah mengakui Palestina sebagai Negara
yang merdeka dan berdaulat ( lihat di
www.antaranews.com,
http://internasional.tvonenews.tv, dan
http://international.sindonews.com).
Ini merupakan kekalahan telak bagi Zionis Israel dan kroni-kroninya,
serta merupakan kemenangan besar bagi bangsa Palestina dan ummat Muslim
pada umumnya.
Nah, sekarang pertanyaannya adalah, kenapa konflik antara dua kubu
ini selalu saja terulang? Banyak analisa yang telah dikemukakan oleh
para ahli dan pengamat, mulai dari sudut pandang politik, ekonomi,
social-budaya, dan militer. Namun jauh-jauh hari, lebih dari 14 abad
yang lalu Allah swt telah memperingatkan kepada kita, “Sesungguhnya
orang-orang yahudi dan nasrani itu tidak akan pernah ridha terhadap
kalian (ummat muslim), sampai kalian mengikuti
millah (agama,
budaya, gaya hidup, perilaku dan kemauan) mereka” (QS 2:120). Dan dalam
ayat yang lain Allah swt juga berfirman, “Sesungguhnya kamu dapati
orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang
beriman ialah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik…” (QS. 5 : 82).
Dari penjelasan al-Quran di atas, dapatlah kita pahami bahwa
sesungguhnya factor agama menjadi sebab dominan perseteruan abadi antara
Yahudi dan Muslim. Dan kalau kita menyempatkan diri untuk membaca
Sirah Nabawiyah, akan
kita dapati bagaimana kebencian, permusuhan dan pengkhianatan yang
dilakukan oleh kaum Yahudi di Madinah terhadap Rasulullah saw dan para
pengikut beliau. Jadi intinya, peperangan seperti ini merupakan realitas
sejarah yang akan terus berulang hingga akhir zaman. Itu dalam konteks
global. Namun dalam konteks perang Zionis Israel-Palestina, faktor
historis-ideologis cukup kental mempengaruhinya.
Di satu sisi, pihak Zionis Israel mengklaim bahwa Palestina merupakan
'tanah yang dijanjikan' bagi bangsa Yahudi, yang akan menjadi negeri
mereka, dimana mereka akan membangun kembali 'Kuil Sulaiman' yang
menjadi simbol kejayaan bangsa Yahudi. Sehingga konsekwensi dari
keyakinan ini adalah mereka harus menduduki tanah itu dan merampas
hak-hak rakyat Palestina. Di sisi lain, dalam hati setiap muslim telah
tertancap keyakinan dan kecintaan yang mendalam terhadap tanah Palestina
dimana terdapat di dalamnya Masjid Al-Aqsha, bahwa itu adalah tanah
suci yang diberkahi, bumi para nabi, tempat Isra' Mi'rajnya Rasulullah
saw, kiblat pertama ummat muslim dalam melaksanakan shalat. Disamping
memang secara
de facto dan
de jure tak dapat
dipungkiri lagi bahwa rakyat Pelestina adalah pemilik sah 'tanah yang
dijanjikan' itu, karena mereka sudah tinggal disana sejak ratusan tahun,
jauh sebelum para imigran Yahudi berbondong-bondong menjajah dan
mengusir mereka dari tanah kelahirannya. Dua interest inilah yang
menyebabkan konflik Zionis Israel-Palestina akan terus mengabadi
sepanjang zaman. Skenario
endingnya hanya dua; Israel hengkang
dan Palestina menguasai seluruh wilayahnya, atau masing-masing pihak
rela melepaskan sebagian interestnya dengan menerima resolusi dua
negara, Palestina separuh wilayah dan Israel separuh wilayah.
Pertanyaan berikutnya, ngapain kita harus repot-repot membantu dan
mengurusi permasalahan Palestina? Emang urusannya sama kita apa? Toh di
Indonesia sendiri juga masih banyak masalah pelik yang harus dipikirkan?
Setidaknya, ada beberapa alasan kenapa kita harus ‘membela’ Palestina:
Pertama, karena
bangsa Palestina adalah saudara kita, saudara seiman, saudara seagama,
saudara sesama manusia. Bukankah Allah swt telah menetapkan bahwa
”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara..” (QS 49:10). Dan Rasulullah saw pun tak lupa mengingatkan kita bahwa
“Orang-orang
mukmin itu ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya sakit,
maka sekujur tubuh akan ikut merasakan sakit..” (HR.Muslim).
Sebagai saudara yang baik, maka sudah seharusnyalah bagi kita untuk
membela, membantu, turut merasakan penderitaan yang dialami oleh
saudara-saudara kita di Palestina. Bahkan kata Rasulullah saw,
"Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri" (HR. Bukhari).
Kedua, Palestina merupakan salah satu Negara yang gigih
mendukung kemerdekaan Indonesia di kancah Internasional pada masa awal
proklamasi kemerdekaan dulu. Dukungan Palestina ini diwakili oleh mufti
besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini yang secara terbuka
mendukung kemerdekaan Indonesia pada 6 September 1945, yang kemudian
disebarluaskan selama dua hari berturut-turut oleh Radio Berlin
berbahasa Arab, dan juga dimuat oleh Harian Al-Ahram, koran nasional
Mesir. Selain itu, Muhammad Ali Taher, seorang saudagar kaya Palestina
juga secara spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia dan
berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan
Indonesia”. Setelah itu dukungan mengalir, di jalanan Palestina terjadi
gelombang demonstrasi untuk solidaritas dan dukungan kepada Indonesia
oleh masyarakat Timur Tengah (lihat di
http://fimadani.com dan
http://blog.umy.ac.id/2012/11/17).
Jadi secara tidak langsung Indonesia pernah berhutang budi kepada
Palestina atas dukungan politiknya dalam membela kemerdekaan Indonesia.
Kemudian yang
ketiga, memperjuangkan kemerdekaan Palestina
merupakan amanat konstitusi, sebagaimana dinyatakan dalam pembukaan UUD
1945 alinea pertama,
"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak
segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus
dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Oleh
sebab itu, sebagai warga Negara yang baik, maka menjadi kewajiban kita
untuk melaksanakan amanat dari konstitusi Negara kita.
Dan yang
keempat, jangan sampai kita menjadi orang-orang yang
‘kerdil’, yang hanya memikirkan dirinya sendiri, yang hanya mengurusi masalahnya sendiri. Tapi jadilah orang ‘
besar’,
yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tapi juga memikirkan
orang lain. Karena setiap Muslim harus bermental pemimpin, harus
berusaha untuk menanggung beban orang lain. Karena Islam mengajarkan
kita untuk menjadi orang
‘besar’, yang berpikir besar dan mengurusi pekerjaan-perkerjaan besar, meskipun ia sendiri memiliki kebutuhan dan masalah pribadi.
Kemudian pertanyaan yang terakhir adalah, apa yang bisa kita lakukan
untuk membela Palestina? Nah, karena kita masih pelajar/mahasiswa,
jabatan dan kekuasaan juga gak punya, mau ikut ke Gaza juga pastinya
bakalan 'gak mudah' dapat akses kesana, setidaknya ada beberapa hal yang
bisa kita lakukan buat saudara-saudara kita di Palestina:
- Bantu mereka dengan do’a. Jangan pernah lupa untuk senantiasa
memohon pertolongan Allah dan kemenangan bagi mereka dalam setiap
bait-bait do’a kita, dalam shalat-shalat kita, dalam tiap
munajat-munajat kita kepada Allah. Karena doa adalah senjata yang paling
hebat bagi orang-orang beriman. “Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian.” (QS Ghafir: 60)
- Bantu mereka dengan harta kita. Mari sisihkan sebagian uang saku
kita untuk saudara-saudara kita di Palestina, sekecil dan sesedikit
apapun itu, insyaAllah akan sangat bermanfaat dalam membantu perjuangan
mereka disana.
- Sebisa mungkin kita hindari untuk membelik produk-produk dari
perusahaan yang berafiliasi kepada Amerika Serikat dan Israel. (info
selengkapnya terkait daftar produk AS-Israel yang harus di boikot dapat
diakses di alamat http://www.inminds.co.uk/boycott-brands.html ).
- Jangan pelit berbagi informasi terkait kondisi yang dialami oleh
saudara-saudara kita di Palestina, baik secara lisan, tulisan, dan
melalui berbagai media serta beragam jejaring social yang ada. insyAllah
dengan demikian kita juga telah turut mengambil peran dalam
mengkampanyekan kemerdekaan Palestina kepada public. Allahu a’lam
bishawab.
----------------------------------------------------------------
Oleh: Eko Priadi -
Staff Kaderisasi KAMMI UIN Maliki Malang