Solilokui
Menjelang Muharram 1436 H
oleh: Ubaidillah A
Sebuah
titisan kalimat yang teralirkan dari perasaan jenuh, deras membasahi ‘futur’,
kaki menjadi lebih gesit melangkah, sebuah jalan lain untuk mengenang….
Sebuah
rasa rindu yang terlalu melankolis untuk dibagikan, terlalu memaksakan bila
disampaikan, kutulis sebuah rasa manusia, yang kangen saudara, yang ditempa
untuk sempat, tentang ‘kamu di mana akhi?’, ‘Afwan ukhti, ana sedang
tidak sempat!’. Setetes sesal mungkin luruh turun di benak antum, namun
persaudaraan ini adalah pertautan batin kita. Lalu, mari kita membayangkan
kekhawatiran saudara Rasulullah SAW saat berumur 17 tahun saat pergi Syam bersama
paman Beliau berdagang, akan bahaya ambisi dan agresi konspirasi orang-orang
Yahudi jika menemui Nabi. Mungkin mereka sedih melepas pertemuan dengan kekasih
Allah itu, atau bayangkan pertemuan (liqo’) Abu Dzar al Ghiffari dari
Syam ke Mekkah yang ingin bertemu dengan Rasulullah SAW. Yang berat, penuh
keikhlasan, pengorbanan, hingga Keislaman. Yang terpesona kepada seorang lelaki yang
menyerukan kepada kemuliaan akhlak. Tidak percaya bahwa Rasulullah adalah
seorang tukang sihir.
Sebuah air mata kepedihan tak akan kering bila tetap
menenteng ego atas nama ukhuwah dan jamaah, dan partikular yang menjemukan itu,
perjuangan ini butuh sambutan tangan antum!
Sebentar
lagi kita akan memenangkan jihad fardiyah kita kepada Allah, agama, keluarga, sosial,
dan diri sendiri dalam setahun. Afwan. Bila selama ini saudara kita sedang
berada dalam kesibukan, hingga perhatian dan atensi tak terakrabi, bait-bait
doa pun luput, dan salam hangat kesabaran menjadi pudar dan berganti esensi. Suatu
saat akan ada rasa menyendiri, datang memeluk saat kita tak ingin bertekuk
lutut atas semua permasalahan. Lalu, datang sebuah lintasan kenangan ketika
bersama saudara, yang tak akan habis dari bibirnya sebuah cerita yang riang,
ringkas, sistematis, maupun tak paham. Namun, lihat kepolosan inisiatifnya yang
ikhlas, sebuah pertemuan yang terjanjikan namun terlalu tak mungkin terus
diharapkan. Ketahuilah, persaudaraan ini akan diuji.
Sudah lama pergantian itu menjadi sebuah sistem yang
niscaya, manusia saling ganti –menggantikan, saling berposisi-memposisikan,
saling berguna-menggunakan, saling melengkapi, kadang tak ada ruang untuk
berapresiasi, biar Allah dan tarbiyah keikhlasan dijemput dengan semangat
Sudah
lama banyak hal terlewati dengan sendiri-bersama, sepi-ramai, tawa-sedih,
usaha-bantuan, dan banyak rasa-rasa dakwah ini. Tuhan sudah menentukan
hari-hari dan bulan-bulan yang dirahmatinya, yakni Hijriah, yang 12 bulan. Pada
tiap-tiap bulan mengabadikan kisah-kisah yang tak akan lekang oleh gerusan zaman
dan keterlupaan manusia. Kisah-kisah yang dahsyat menginspirasi, mengisi bahan
bakar yang kosong futur dan figur dalam setiap umur dakwah menjadi cerah
berwawasan, yang padanya semua keinsafan manusia akan dievaluasi, Tuhan sudah
memperingati wal tandzhur nafsum ma qaddamat li ghad. Dan ala
bidzikrillah tathmainnul qulub. Tuhan terimalah amal-amal kammi setahun
yang lalu, ampuni kelalaian kami yang berefek pada kesejahteraan ukhuwah kammi
yang tak mungkin kami pungkiri terseleksi. Kumpulkanlah kammi lagi dengan
saudara-saudara kammi yang sibuk, jauh, dan sedang sakit. Kumpulkan kammi di
syurgaMu, yang di dalamnya berisi usaha ibadah dan jihad karenaMu. Semoga antum
tahu, ‘yang sakit jangan lupa istirahat/yang sibuk jangan lupa tidur/yang
belajar keras dan bekerja keras jangan lupa berdoa/yang sendiri jangan lupa
saudara dan telfon orang tua/yang sedang ramai jangan lupa tersenyum
ikhlas/yang bingung jangan lupa menulis’.
Momen. Setiap hari adalah berkah tiada punah bagi hidup
kammi, sebuah anugerah baru untuk perjuangan dalam jamaah, menyebarkan ketaatan
kepada manusia yang melupa untuk Tuhan. Mengumpulkan pahala-pahala, mengutip
hikmah-hikmah, menyimpan nasihat-nasihat, dan menyampaikan kebaikan melarang
keburukan
Betapa
tak akan lengser siapa antum dalam hati-hati mereka. Yang telah datang dari
keterasingan, yang ditempa dalam kesibukan untuk terus berkumpul dan merasakan keresahan
kegelisahan untuk menikmati aroma hidup berjamaah. Yang pada mereka tak ada
jaminan tawa terbahak-bahak, hanya berkumpul dan beramal. Dan salah satu dari
mereka akan suka sekali dengan salah satu motivasi “Dan katakanlah ‘beramallah
kalian, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat amal
kalian itu, dan kalian kana dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang
gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang kalian amalkan
’”(Q.S At Taubah:105). Dulu, sekali kalian adalah orang-orang berbeda, idelogi,
kemauan, cita-cita, tujuan hidup, egositas. Namun, kalian begitu akrab dan
saling ingin mengusap air mata, atau meminta mengulang cerita lucu dan kabar
gembira saudaramu. Betapa kalian tak perlu teori untuk memahami atau mempraktikkan
kontak sosial. Kalian adalah puncak dari keridhaan Allah bila kalian terus
beibadah. Karena yang kalian lakukan terang dan jelasnya syariat Allah di muka
bumi. Itu lebih dari sistematika penulisa penelitian yang membutuhkan
dialektika pembuktian. Agama Tuhan ini tak akan terhitung nilai-nilai kemanusiaannya,
yang selama ini selalu bias bagi para komunis-sosialis, terlalu kejam dan tak
berbentuk bagi para liberal-kapitalis.
Tuhan,
tolong berilah kesehatan kepada keluargaku, saudara-saudaraku. Kumpulkan kami
sebagai orang-orang mukmin. Tolong jaga hati kammi dari rasa dengki, curiga,
yang busuk dan mematikan ibadah kammi kepadaMu. Berilah kammi kesempatan untuk
terus mengembangkan diri dan menjadi lebih baik. Dengan tetap bersama-sama
jamaah dan ukhuwah ini. Sungguh ukhuwah ini terlalu manis untuk dilupakan,
terlalu pahit untuk dimuntahkan, terlalu segar untuk segera dilahap, terlalu
matang untuk langsung dipetik. Sungguh terlalu bagi mereka yang meragukan
ukhuwah kammi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar