Rabu, 22 Oktober 2014

Solilokui Menjelang Muharram 1436 H

Solilokui Menjelang Muharram 1436 H
oleh: Ubaidillah A

Sebuah titisan kalimat yang teralirkan dari perasaan jenuh, deras membasahi ‘futur’, kaki menjadi lebih gesit melangkah, sebuah jalan lain untuk mengenang….
Sebuah rasa rindu yang terlalu melankolis untuk dibagikan, terlalu memaksakan bila disampaikan, kutulis sebuah rasa manusia, yang kangen saudara, yang ditempa untuk sempat, tentang ‘kamu di mana akhi?’, ‘Afwan ukhti, ana sedang tidak sempat!’. Setetes sesal mungkin luruh turun di benak antum, namun persaudaraan ini adalah pertautan batin kita. Lalu, mari kita membayangkan kekhawatiran saudara Rasulullah SAW saat berumur 17 tahun saat pergi Syam bersama paman Beliau berdagang, akan bahaya ambisi dan agresi konspirasi orang-orang Yahudi jika menemui Nabi. Mungkin mereka sedih melepas pertemuan dengan kekasih Allah itu, atau bayangkan pertemuan (liqo’) Abu Dzar al Ghiffari dari Syam ke Mekkah yang ingin bertemu dengan Rasulullah SAW. Yang berat, penuh keikhlasan, pengorbanan, hingga Keislaman.  Yang terpesona kepada seorang lelaki yang menyerukan kepada kemuliaan akhlak. Tidak percaya bahwa Rasulullah adalah seorang tukang sihir.
Sebuah air mata kepedihan tak akan kering bila tetap menenteng ego atas nama ukhuwah dan jamaah, dan partikular yang menjemukan itu, perjuangan ini butuh sambutan tangan antum!
Sebentar lagi kita akan memenangkan jihad fardiyah kita kepada Allah, agama, keluarga, sosial, dan diri sendiri dalam setahun. Afwan. Bila selama ini saudara kita sedang berada dalam kesibukan, hingga perhatian dan atensi tak terakrabi, bait-bait doa pun luput, dan salam hangat kesabaran menjadi pudar dan berganti esensi. Suatu saat akan ada rasa menyendiri, datang memeluk saat kita tak ingin bertekuk lutut atas semua permasalahan. Lalu, datang sebuah lintasan kenangan ketika bersama saudara, yang tak akan habis dari bibirnya sebuah cerita yang riang, ringkas, sistematis, maupun tak paham. Namun, lihat kepolosan inisiatifnya yang ikhlas, sebuah pertemuan yang terjanjikan namun terlalu tak mungkin terus diharapkan. Ketahuilah, persaudaraan ini akan diuji.
Sudah lama pergantian itu menjadi sebuah sistem yang niscaya, manusia saling ganti –menggantikan, saling berposisi-memposisikan, saling berguna-menggunakan, saling melengkapi, kadang tak ada ruang untuk berapresiasi, biar Allah dan tarbiyah keikhlasan dijemput dengan semangat
Sudah lama banyak hal terlewati dengan sendiri-bersama, sepi-ramai, tawa-sedih, usaha-bantuan, dan banyak rasa-rasa dakwah ini. Tuhan sudah menentukan hari-hari dan bulan-bulan yang dirahmatinya, yakni Hijriah, yang 12 bulan. Pada tiap-tiap bulan mengabadikan kisah-kisah yang tak akan lekang oleh gerusan zaman dan keterlupaan manusia. Kisah-kisah yang dahsyat menginspirasi, mengisi bahan bakar yang kosong futur dan figur dalam setiap umur dakwah menjadi cerah berwawasan, yang padanya semua keinsafan manusia akan dievaluasi, Tuhan sudah memperingati wal tandzhur nafsum ma qaddamat li ghad. Dan ala bidzikrillah tathmainnul qulub. Tuhan terimalah amal-amal kammi setahun yang lalu, ampuni kelalaian kami yang berefek pada kesejahteraan ukhuwah kammi yang tak mungkin kami pungkiri terseleksi. Kumpulkanlah kammi lagi dengan saudara-saudara kammi yang sibuk, jauh, dan sedang sakit. Kumpulkan kammi di syurgaMu, yang di dalamnya berisi usaha ibadah dan jihad karenaMu. Semoga antum tahu, ‘yang sakit jangan lupa istirahat/yang sibuk jangan lupa tidur/yang belajar keras dan bekerja keras jangan lupa berdoa/yang sendiri jangan lupa saudara dan telfon orang tua/yang sedang ramai jangan lupa tersenyum ikhlas/yang bingung jangan lupa menulis’.
Momen. Setiap hari adalah berkah tiada punah bagi hidup kammi, sebuah anugerah baru untuk perjuangan dalam jamaah, menyebarkan ketaatan kepada manusia yang melupa untuk Tuhan. Mengumpulkan pahala-pahala, mengutip hikmah-hikmah, menyimpan nasihat-nasihat, dan menyampaikan kebaikan melarang keburukan
Betapa tak akan lengser siapa antum dalam hati-hati mereka. Yang telah datang dari keterasingan, yang ditempa dalam kesibukan  untuk terus berkumpul dan merasakan keresahan kegelisahan untuk menikmati aroma hidup berjamaah. Yang pada mereka tak ada jaminan tawa terbahak-bahak, hanya berkumpul dan beramal. Dan salah satu dari mereka akan suka sekali dengan salah satu motivasi “Dan katakanlah ‘beramallah kalian, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat amal kalian itu, dan kalian kana dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang kalian amalkan ’”(Q.S At Taubah:105). Dulu, sekali kalian adalah orang-orang berbeda, idelogi, kemauan, cita-cita, tujuan hidup, egositas. Namun, kalian begitu akrab dan saling ingin mengusap air mata, atau meminta mengulang cerita lucu dan kabar gembira saudaramu. Betapa kalian tak perlu teori untuk memahami atau mempraktikkan kontak sosial. Kalian adalah puncak dari keridhaan Allah bila kalian terus beibadah. Karena yang kalian lakukan terang dan jelasnya syariat Allah di muka bumi. Itu lebih dari sistematika penulisa penelitian yang membutuhkan dialektika pembuktian. Agama Tuhan ini tak akan terhitung nilai-nilai kemanusiaannya, yang selama ini selalu bias bagi para komunis-sosialis, terlalu kejam dan tak berbentuk bagi para liberal-kapitalis.
Tuhan, tolong berilah kesehatan kepada keluargaku, saudara-saudaraku. Kumpulkan kami sebagai orang-orang mukmin. Tolong jaga hati kammi dari rasa dengki, curiga, yang busuk dan mematikan ibadah kammi kepadaMu. Berilah kammi kesempatan untuk terus mengembangkan diri dan menjadi lebih baik. Dengan tetap bersama-sama jamaah dan ukhuwah ini. Sungguh ukhuwah ini terlalu manis untuk dilupakan, terlalu pahit untuk dimuntahkan, terlalu segar untuk segera dilahap, terlalu matang untuk langsung dipetik. Sungguh terlalu bagi mereka yang meragukan ukhuwah kammi.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar