Jumat, 10 Oktober 2014

Jangan BASI (Bandel Komunikasi)

Jangan BASI (Bandel Komunikasi)
Oleh: Ubaidillah Alfaisal Samosir (9/10/2014)


Part 1
Kita akan belajar menikmati hidup yang tidak ringan dan banyak arah
Menengok ke dalam kehidupan orang-orang mulia,
Nabi Sulaiman A.S, Nabi Yusuf A.S, dan Rasulullah; Muhammad SAW

Minum JAMU (Jaringan Mutu)
            Pada hari selasa sore ada latihan drama di belakang Sport Centre, saya tidak bisa menemani rekan-rekan ikhwan membuka stand. Untung masih sempat membantu merapikan dan mengusung bendera, banner duduk, informasi kertas dan undangan agenda. Saya bercerita dengan seorang rekan berbadan gempal (tapi Beliau sehat dan aktif), ada undangan dari HMI nanti malam jam setengah tujuh di depan tangga besar, semacam diskusi panel tentang hari kesaktian pancasila, katanya. Sesaat saya merasa tergesa dan terburu-buru mendengarnya, dan mulai mencari catatan dan sumber bacaan untuk bahan berbicara atau berdialektika untuk mengimbangi obrolan, nanti setelah selesai meletakkan inventaris. Setelah solat maghrib saya langsung beranjak pulang, saya merasa ada waktu untuk membaca, walau hanya postingan-postingan blog, dan saya pesankan kepada rekan saya untuk ikut, kebetulan waktu itu mereka ada 3 orang (akh Fauzan, akh Faiz, dan akh Ujang), namun akh Ujang tidak bisa hadir, karena harus memenuhi amanah dari bosnya.
            Sempat saya dipesankan untuk menyimpan hasil pencarian informasi tentang tema oleh Fauzan, saya mengiyakan, dan ia mengatakan untuk singgah dulu ke timpat tinggalnya, ke sana bersama katanya. Saya juga mengiyakan.
            Saya mesti terburu-buru, bersih-bersih diri, dan saya menengok ke jam ponsel, sudah tiba waktunya. Padahal saya belum kenyang informasi, saya sudahi, saya membaca refleksi maqosidus syari’ah dalam pancasila dari Salim A. Fillah, blog-blog nilai-nilai pancasila seperti menggurui karena jelas untuk anak-anak SD, dan banyak lain. Namun saya hanya menyederhanakan bacaaan dan merasa cukup gak cukup, mesti berpikir sendiri dan berargumen mandiri. Namun saya masih ragu apabila menjadi panelis.
            Pengalaman saya menjadi panelis, undangan dari HMI juga, tentang Save Our Kampus, yang mirip propogandis dan konsensus ratifikasi aksi mereka terhadap rektor. Waktu itu saya dihubungi terus tentang TKP, dan saya ditemani oleh Akh Udi dan Akh Adib. Setiba di sana, waktu itu di beranda gedung A lantai 1, saya harus mengisi curiculum vitae panelis. Saya agak canggung pada point jabatan, training, prestasi, dan pengalaman berorganisasi. Tapi apalah daya, saya harus jujur, dan baru kali itu saya menikmati perasaan sebagai penjujur. Saya mesti jujur juga bahwa lawan bicara saya adalah mahasiswa strata 1 dari HMI, mahasiswa P.IPS semester 6 dari IMM, dan saya mahasiswa BSA semester 6 dari KAMMI.
            Namun kali ini beda, saya tidak dihubungi di mana saya harus mengikuti acara, dan ketika hampir sampai saya melihat jam sudah lewat dua puluh menit dari undangan, langsung saya melayangkan ke Fauzan agar segera duluan ke tempat acara. Namun saya tidak dikonfirmasi. Sehingga membuat saya melangkah lebih gesit dan cepat.
            Ketika masuk di kampus, suasana lengang, terasa sendiri, saya singgah ke tempat tinggal Fauzan, karena ragu dia tidak menuruti intruksi untuk datang ke agenda terlebih dahulu, tanpa saya. Saya tidak mendapati siapapun di sana. Karena dikejar perasaan tidak sabar dan kesal tidak menerima konfirmasi, saya langsung telfon Fauzan, ternyata anaknya sudah di sana. Saya kecele oleh saya sendiri. Astaghfirullah. Dengan perasaan bersalah saya harus memutar rute untuk sampai di sana.
Di sana saya melihat para undangan sudah berdiri, suasana gelap, pada jenjang tangga mereka menidurkan bendera besar HMI dengan batu, dan bercahayakan sederhana oleh cahaya dari lampu mobil, sederhana. Saya agak linglung, kenapa sedari tadi tidak ada yang mengangsur curiculum vitae pemateri. Saya berpikir, ada yang aneh dari agenda HMI kali ini, kalau saya memang harus menjadi panelis lagi, yakni:
1).  Panitia tidak menghubungi saya
2). Sudah lewat 10 menit agenda berjalan, saya tidak mendapati ada kertas apapun
            Saya menyimpulkan, ini bukan agenda diskusi panel, namun undangan terbuku untuk setiap OMEK. Karena host telah memanggil 3 orang sarjana sebagai pemateri, 2 orang strata satu, 1 orang strata dua dan sudah menjadi dosen ilmu administrasi. Sampai saya mengantuk sekali mengikuti.
            Saya menjadi basi (bandel komunikasi). Energi saya terbuang karena harus bolak-balik mengkoordinir rekan. Namun itu karena saya tidak mengikuti arahan saya sendiri dan memutuskan untuk langsung ke tempat.
            Dalam sistem komunikasi dan koordinasi diputuskan secara mutlak dalam syuro. Siapapun tidak boleh melanggar, memperlambat, meruangkan malas, dan mengalpakan diri dari hasil syuro. Bila ditelaah, apakah Rasululullah kurang cerdas dengan kondisi kesiapan para resimen pasukan perang Uhud? Namun karena perintah Tuhan adalah nomer satu digalakkan dalam aksi seperti syuro, maka i’tikad pribadi menjadi bias. Walau di akhir peperangan maut hampir menjemput Rasulullah akibat kelalaian para sahabat terhadap musuh di balik gunung dan ingin merampas ghanimah.
            Dalam buku dari gerakan ke negara halaman 120-121, Ustadz Anis Matta menuturkan ada 9 hal yang bisa dikembangkan untuk memaksimalkan peran dan fungsi syuro; pertama, harus ada keikhlasan dan nuansa spiritual yang kental sehingga semua orang merasa bahwa pendapat-pendapatnya akan memengaruhi kehidupan orang lain.
Kedua, harus ada semangat kebebasan dan kesetaraan yang memungkinkan setiap orang berpendapat tanpa merasa sungkan atau segan dengan seseorang yang lain.
Ketiga, harus ada tradisi ilmiah yang kokoh, di mana kesantunan, rasionalitas, objektivitas, dan metodologi serta data empiris di junjung tinggi di atas segalanya.
Keempat, harus ada kelapangan dada yang memadai untuk dapat menampung berbagai perbedaan pendapat, sehingga keragaman menjadi sumber dinamika dan pertumbuhan, bukan malah jadi sumber konflik dan perpecahan.
Kelima¸ harus ada manajemen waktu yang efektif untuk menjamin bahwa setiap masalah mendapat jatah waktu layak untuk pembahasan, dan setiap orang mendapat kesempatan cukup untuk menyampaikan pikiran-pikirannya.
Keenam, harus ada semangat introspeksi yang cukup untuk menjamin kita tetap objektif memandang diri kita sendiri, tidak terjerumus dalam pengkambinghitaman, fitnah, dan konflik antarindividu.
Ketujuh, harus ada sikap natural dan wajar dalam memandang kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sendiri, kita tidak perlu merasa bersalah secara berlebihan. Merasa bersalah itu penting, tapi berlebihan dalam perasaan bersalah juga negatif.
Kedelapan, harus ada sikap yang proposional terhadap tafsir konspirasi, sehingga kita tidak perlu membuat musuh kelihatan terlalu digdaya karena selalu sukses dalam konspirasinya atau membuat kita bersikap defensif karena selalu harus berhati-hati.
Kesembilan, harus ada pandangan masa depan yang visioner karena keputusan-keputusan kita hari ini merupkan input yang outputnya akan muncul beberapa tahun kemudian. Kita akan membayar harga mahal jika tidak meletakkan persoalan-persoalan strategis kita hari ini dalam kerangka visi masa depan yang jelas dan kuat.
Sungguh sangat naif bila ada kader yang tidak mau dikoordinir dan mematuhi hasil syuro. Salah satu penajajakan tarbiyah adalah dengan merasakan sendiri bagaimana pengalaman spiritual dakwah. Ketika gagal ia tidak merasa sakit, karena ini adalah tanggungan bersama. Tidak perlu ada risau dan merasa tidak didengar, mengerutu, dan tidak mau hadir.
Kenanglah, kedisiplinan sahabat kepada Rasulullah SAW, untuk terus mengikuti jalanan dakwah yang ditunai dengan embargo makanan, teror kesakitan dan isolasi, dan lain sebagainya. Namun pertahanan Rasulullah adalah sangat cakap, ia mencoba mencari tempat yang aman bagi sahabat untuk hijrah. Dan semua aman sampai perjanjian Hudaibiyah, ba’it aqobah 1 dan 2. Membangun basis yang tidak lagi mudah, karena akan dihantui perlakuan negatif dari musuh-musuh Islam yang sejak zaman nabi Ibrahim sampai sekarang berkeliaran berkonspirasi dan berniat menjarah kehidupan orang Islam. Mereka tahu cara melemahkan manusia. Dengan memutuskan hubungan Islam dalam segi kehidupan pribadi muslim, sehingga ia merasa ada pilihan hidup yang lain untuk menikmati hidup, tanpa mau bergerak. Sungguh panggilanlah yang mau menyentuh kedamaian dan kemauan untuk mau menegakkan syariah Islam dengan organisasi. Dalam buku tarbiyah siyasah dijelaskan, hukum-hukum Allah itu perlu dihidupkan dengan jamaah.
Bila dalam jamaah ada ketidakpercayaan dan tidak mutu jaringan, ingatlah kisah Abdullah bin Ubai yang menuturkan kabar bohong kepada rombongan hijrah ke Madinah tentang sayyidah Aisyah dan Sahabat Safwan. Rasulullah berniat menceraikan sayyidah Aisyah, peristiwa itu terjadi 5 H. Kalau saja para sahabat khilaf dan naif dengan berita bohong itu, maka mereka sedang tidak mentaati surah Al Ahzab ayat 1. Mudah saja menandainya, ingat saja ciri-ciri orang munafik.
Sahabat yang termakan kabar itu harus dicambuk 80 kali, seperti sahabat Misthah bin Utsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahsy. Betapa keras pendidikan Rasulullah. Namun kader-kader dakwah sekarang menyepelekan pengakuan, sok aksi, dan malas mengkonfirmasi kemauan dalam mengagendakan. Akibatnya koordinasi tidak masif, dan evaluasi kendur dari ketidakikutsertaan kader. Padahal salah satu dari sarat penting dalam amal jama’i adalah mulusnya transmisi jaringan ke dalam maupun keluar.
Mungkin ibadah mereka belum terjamin dan cara mereka berinteraksi dengan wahyu naqli masih lambat, sehingga panggilan spiritual (ruhul istajabah) tidak terdidik. Padahal salah satu nilai dari mutu organisasi adalah jaringan. Masih banyak yang perlu dipelajari dan dipahami mengenai mutu jaringan. Wallahu ‘alam bishawab, ‘asallahu an yakuffa baksalladzina kafaru,  

Bersambung….. Part 2 Makan PAPEDA (Paham, Pengertian, Datang), Part 3 Pada Agenda Penting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar