Jangan
BASI (Bandel Komunikasi)
Oleh: Ubaidillah Alfaisal Samosir (9/10/2014)
Part 1
Kita akan belajar menikmati hidup yang tidak
ringan dan banyak arah
Menengok ke dalam kehidupan orang-orang
mulia,
Nabi Sulaiman A.S, Nabi Yusuf A.S, dan
Rasulullah; Muhammad SAW
Minum
JAMU (Jaringan Mutu)
Pada hari selasa sore ada latihan drama
di belakang Sport Centre, saya tidak bisa menemani rekan-rekan ikhwan
membuka stand. Untung masih sempat membantu merapikan dan mengusung bendera, banner
duduk, informasi kertas dan undangan agenda. Saya bercerita dengan seorang
rekan berbadan gempal (tapi Beliau sehat dan aktif), ada undangan dari HMI
nanti malam jam setengah tujuh di depan tangga besar, semacam diskusi panel tentang
hari kesaktian pancasila, katanya. Sesaat saya merasa tergesa dan terburu-buru
mendengarnya, dan mulai mencari catatan dan sumber bacaan untuk bahan berbicara
atau berdialektika untuk mengimbangi obrolan, nanti setelah selesai meletakkan
inventaris. Setelah solat maghrib saya langsung beranjak pulang, saya merasa
ada waktu untuk membaca, walau hanya postingan-postingan blog, dan saya
pesankan kepada rekan saya untuk ikut, kebetulan waktu itu mereka ada 3 orang
(akh Fauzan, akh Faiz, dan akh Ujang), namun akh Ujang tidak bisa hadir, karena
harus memenuhi amanah dari bosnya.
Sempat saya dipesankan untuk menyimpan hasil pencarian
informasi tentang tema oleh Fauzan, saya mengiyakan, dan ia mengatakan untuk
singgah dulu ke timpat tinggalnya, ke sana bersama katanya. Saya juga
mengiyakan.
Saya mesti terburu-buru, bersih-bersih diri, dan saya
menengok ke jam ponsel, sudah tiba waktunya. Padahal saya belum kenyang
informasi, saya sudahi, saya membaca refleksi maqosidus syari’ah dalam
pancasila dari Salim A. Fillah, blog-blog nilai-nilai pancasila seperti
menggurui karena jelas untuk anak-anak SD, dan banyak lain. Namun saya hanya
menyederhanakan bacaaan dan merasa cukup gak cukup, mesti berpikir sendiri dan
berargumen mandiri. Namun saya masih ragu apabila menjadi panelis.
Pengalaman saya menjadi panelis, undangan dari HMI juga,
tentang Save Our Kampus, yang mirip propogandis dan konsensus ratifikasi aksi
mereka terhadap rektor. Waktu itu saya dihubungi terus tentang TKP, dan saya
ditemani oleh Akh Udi dan Akh Adib. Setiba di sana, waktu itu di beranda gedung
A lantai 1, saya harus mengisi curiculum vitae panelis. Saya agak
canggung pada point jabatan, training, prestasi, dan pengalaman
berorganisasi. Tapi apalah daya, saya harus jujur, dan baru kali itu saya
menikmati perasaan sebagai penjujur. Saya mesti jujur juga bahwa lawan bicara
saya adalah mahasiswa strata 1 dari HMI, mahasiswa P.IPS semester 6 dari IMM,
dan saya mahasiswa BSA semester 6 dari KAMMI.
Namun kali ini beda, saya tidak dihubungi di mana saya
harus mengikuti acara, dan ketika hampir sampai saya melihat jam sudah lewat
dua puluh menit dari undangan, langsung saya melayangkan ke Fauzan agar segera
duluan ke tempat acara. Namun saya tidak dikonfirmasi. Sehingga membuat saya
melangkah lebih gesit dan cepat.
Ketika masuk di kampus, suasana
lengang, terasa sendiri, saya singgah ke tempat tinggal Fauzan, karena ragu dia
tidak menuruti intruksi untuk datang ke agenda terlebih dahulu, tanpa saya. Saya
tidak mendapati siapapun di sana. Karena dikejar perasaan tidak sabar dan kesal
tidak menerima konfirmasi, saya langsung telfon Fauzan, ternyata anaknya sudah
di sana. Saya kecele oleh saya sendiri. Astaghfirullah. Dengan perasaan
bersalah saya harus memutar rute untuk sampai di sana.
Di sana saya melihat para undangan sudah
berdiri, suasana gelap, pada jenjang tangga mereka menidurkan bendera besar HMI
dengan batu, dan bercahayakan sederhana oleh cahaya dari lampu mobil,
sederhana. Saya agak linglung, kenapa sedari tadi tidak ada yang mengangsur curiculum
vitae pemateri. Saya berpikir, ada yang aneh dari agenda HMI kali ini,
kalau saya memang harus menjadi panelis lagi, yakni:
1). Panitia tidak menghubungi saya
2).
Sudah lewat 10 menit agenda berjalan, saya tidak mendapati ada kertas apapun
Saya menyimpulkan, ini bukan agenda diskusi panel, namun
undangan terbuku untuk setiap OMEK. Karena host telah memanggil 3 orang sarjana
sebagai pemateri, 2 orang strata satu, 1 orang strata dua dan sudah menjadi
dosen ilmu administrasi. Sampai saya mengantuk sekali mengikuti.
Saya menjadi basi (bandel komunikasi). Energi saya
terbuang karena harus bolak-balik mengkoordinir rekan. Namun itu karena saya
tidak mengikuti arahan saya sendiri dan memutuskan untuk langsung ke tempat.
Dalam sistem komunikasi dan koordinasi diputuskan secara
mutlak dalam syuro. Siapapun tidak boleh melanggar, memperlambat, meruangkan
malas, dan mengalpakan diri dari hasil syuro. Bila ditelaah, apakah
Rasululullah kurang cerdas dengan kondisi kesiapan para resimen pasukan perang Uhud?
Namun karena perintah Tuhan adalah nomer satu digalakkan dalam aksi seperti
syuro, maka i’tikad pribadi menjadi bias. Walau di akhir peperangan maut hampir
menjemput Rasulullah akibat kelalaian para sahabat terhadap musuh di balik
gunung dan ingin merampas ghanimah.
Dalam buku dari gerakan ke negara halaman 120-121, Ustadz
Anis Matta menuturkan ada 9 hal yang bisa dikembangkan untuk memaksimalkan
peran dan fungsi syuro; pertama, harus ada keikhlasan dan nuansa
spiritual yang kental sehingga semua orang merasa bahwa pendapat-pendapatnya
akan memengaruhi kehidupan orang lain.
Kedua,
harus ada semangat kebebasan dan kesetaraan yang memungkinkan setiap orang
berpendapat tanpa merasa sungkan atau segan dengan seseorang yang lain.
Ketiga,
harus ada tradisi ilmiah yang kokoh, di mana kesantunan, rasionalitas,
objektivitas, dan metodologi serta data empiris di junjung tinggi di atas
segalanya.
Keempat,
harus ada kelapangan dada yang memadai untuk dapat menampung berbagai perbedaan
pendapat, sehingga keragaman menjadi sumber dinamika dan pertumbuhan, bukan
malah jadi sumber konflik dan perpecahan.
Kelima¸
harus ada manajemen waktu yang efektif untuk menjamin bahwa setiap masalah
mendapat jatah waktu layak untuk pembahasan, dan setiap orang mendapat
kesempatan cukup untuk menyampaikan pikiran-pikirannya.
Keenam,
harus
ada semangat introspeksi yang cukup untuk menjamin kita tetap objektif
memandang diri kita sendiri, tidak terjerumus dalam pengkambinghitaman, fitnah,
dan konflik antarindividu.
Ketujuh,
harus ada sikap natural dan wajar dalam memandang kesalahan-kesalahan yang kita
lakukan sendiri, kita tidak perlu merasa bersalah secara berlebihan. Merasa bersalah
itu penting, tapi berlebihan dalam perasaan bersalah juga negatif.
Kedelapan,
harus
ada sikap yang proposional terhadap tafsir konspirasi, sehingga kita tidak
perlu membuat musuh kelihatan terlalu digdaya karena selalu sukses dalam
konspirasinya atau membuat kita bersikap defensif karena selalu harus
berhati-hati.
Kesembilan,
harus
ada pandangan masa depan yang visioner karena keputusan-keputusan kita hari ini
merupkan input yang outputnya akan muncul beberapa tahun kemudian.
Kita akan membayar harga mahal jika tidak meletakkan persoalan-persoalan
strategis kita hari ini dalam kerangka visi masa depan yang jelas dan kuat.
Sungguh
sangat naif bila ada kader yang tidak mau dikoordinir dan mematuhi hasil syuro.
Salah satu penajajakan tarbiyah adalah dengan merasakan sendiri bagaimana
pengalaman spiritual dakwah. Ketika gagal ia tidak merasa sakit, karena ini
adalah tanggungan bersama. Tidak perlu ada risau dan merasa tidak didengar,
mengerutu, dan tidak mau hadir.
Kenanglah,
kedisiplinan sahabat kepada Rasulullah SAW, untuk terus mengikuti jalanan
dakwah yang ditunai dengan embargo makanan, teror kesakitan dan isolasi, dan
lain sebagainya. Namun pertahanan Rasulullah adalah sangat cakap, ia mencoba
mencari tempat yang aman bagi sahabat untuk hijrah. Dan semua aman sampai
perjanjian Hudaibiyah, ba’it aqobah 1 dan 2. Membangun basis yang tidak lagi
mudah, karena akan dihantui perlakuan negatif dari musuh-musuh Islam yang sejak
zaman nabi Ibrahim sampai sekarang berkeliaran berkonspirasi dan berniat
menjarah kehidupan orang Islam. Mereka tahu cara melemahkan manusia. Dengan memutuskan
hubungan Islam dalam segi kehidupan pribadi muslim, sehingga ia merasa ada
pilihan hidup yang lain untuk menikmati hidup, tanpa mau bergerak. Sungguh panggilanlah
yang mau menyentuh kedamaian dan kemauan untuk mau menegakkan syariah Islam
dengan organisasi. Dalam buku tarbiyah siyasah dijelaskan, hukum-hukum Allah
itu perlu dihidupkan dengan jamaah.
Bila
dalam jamaah ada ketidakpercayaan dan tidak mutu jaringan, ingatlah kisah
Abdullah bin Ubai yang menuturkan kabar bohong kepada rombongan hijrah ke
Madinah tentang sayyidah Aisyah dan Sahabat Safwan. Rasulullah berniat
menceraikan sayyidah Aisyah, peristiwa itu terjadi 5 H. Kalau saja para sahabat
khilaf dan naif dengan berita bohong itu, maka mereka sedang tidak mentaati
surah Al Ahzab ayat 1. Mudah saja menandainya, ingat saja ciri-ciri orang
munafik.
Sahabat
yang termakan kabar itu harus dicambuk 80 kali, seperti sahabat Misthah bin
Utsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahsy. Betapa keras pendidikan
Rasulullah. Namun kader-kader dakwah sekarang menyepelekan pengakuan, sok aksi,
dan malas mengkonfirmasi kemauan dalam mengagendakan. Akibatnya koordinasi
tidak masif, dan evaluasi kendur dari ketidakikutsertaan kader. Padahal salah
satu dari sarat penting dalam amal jama’i adalah mulusnya transmisi jaringan ke
dalam maupun keluar.
Mungkin
ibadah mereka belum terjamin dan cara mereka berinteraksi dengan wahyu naqli
masih lambat, sehingga panggilan spiritual (ruhul istajabah) tidak
terdidik. Padahal salah satu nilai dari mutu organisasi adalah jaringan. Masih banyak
yang perlu dipelajari dan dipahami mengenai mutu jaringan. Wallahu ‘alam
bishawab, ‘asallahu an yakuffa baksalladzina kafaru,
Bersambung….. Part 2 Makan
PAPEDA (Paham, Pengertian, Datang), Part 3 Pada Agenda Penting.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar