Jumat, 31 Oktober 2014

Tokoh Muda KAMMI_Faiz; Daun (Dakwah Universal)

            Nama panggilannya Faiz. Kader muda dan lucu ini ikut DM 1 pada tahun 2013 dengan pencarian seorang pengelana tanpa peta. Namun ia memiliki kompas berupa jaringan persaudaraan. Faiz boleh percaya bahwa orang-orang baik akan bertemu dengan kadar dan petunjuk iman kepada kelompoknya. Bila seorang telah terpatri dalam dirinya karakter pemuda Islam (Ali bin Abi Thalib, Salahuddin al Ayubi, Arqam, Sultan Muhammad Mahmed al Fathin 1645, Al Makmun), maka ia akan termiliki dua konsekuensi. Ia akan bergerak, atau rasa berjuang akan mengantarkan ia pada dakwah.
            Faiz seorang inisiator, kritikus, kader/dai, desianer, leader¸ joker, arsitek, gastronom.
Suatu saat setelah latihan drama di lapangan belakang SC, saya menghampirinya sedang membaca buku karya bang Izuddin ‘quantum tarbiyah’, sendiri sambil duduk santai. Entah mengapa Faiz senang menjadi baik dengan aksi membuka jarkom stand. Saat setelah TM DM 1 (30 Oktober 2014), “Besok kita ndak buka stand lagi yoo!”. Faiz terdiam seperti telah lupa pernah bermimpi indah dan sehat.
Dan pada agenda sosialisasi pengenalan KAMMI kepada antar OMEK atau pengguna tetap jalan tengah antara gedung A dan gedung B dengan membagi-bagi takjil, Faiz sangat bersemangat membagi sebakul es yogurt dan bubur kepada mereka. Ia senang. Betapa senangnya berbagi. Betapa bahagia menjadi mujahid. Betapa bahagia memiliki kesalehan pribadi. Satu langkah menuju kecakapan sosial, sebagaimana dua syarat tarbiyah siyasah oleh Kang Cahyadi.
Suatu kali Faiz telah menemukan sumber darah mendidih dalam dadanya. Sebuah pancuran yang berpancaroba. Yang pernah dirasakannya dulu, sewaktu DM. yakni ketika family gathering (19 Oktober 2014). Betapa suguhan kalimat dan statement seorang agitator, Win Ariga menambah kepercayaan dirinya. Menyimpulkan tali yang selama ini hampir tak tertarik pada satu sisi, bahwa ia sedang berguna. Dan semoga ia membaca fiqh dakwah, Syaikh Mustafa Mashur, yang kerap menggenapi semua perasaan mujahid tentang kerja keras dan usaha tanpa batas pada bab pembentukan dakwah (takwin).
Faiz memiliki rival. Ia sering memanggilnya Oik. Bahkan ia selalu menyimpan serta menceritakan satu kisah tentang Okik kepada peserta DM, dan juga kepada saya. Okik seorang koordinator departemen kaderisasi KAMMI UG Bali, sedang Faiz adalah seorang staff departemen kaderisasi KAMMI UIN Malang. Faiz pernah iri. Dan saya menyelipkan motivasi fastabiqul khoirot.
Faiz bersemangat mengikuti jenjang AB3. Suatu semangat yang langka. Baru dua kader yang sungguh-sungguh ingin mengikuti DM3, dan keduanya mengungkapkan kepada saya secara langsung. Yakni Abdul Haris Syafii (staf KP), dan Faiz Ahmad Ubaidillah (staf KD).   
Faiz benci pesimistis. Faiz aktif mendayakan kepala dan idenya pada pengayaan, manajerial, operasi sebuah bahan baku sumber daya. Sebuah kualitas dari kerja kolektif dari seni ketidakmungkinan oleh Ustadz Anis Matta. Faiz selalu berinteraksi tentang percaya diri dan komunikasi dengan Fauzan Azhim Winata (co.KD) dan Ujang Fauzan (sekretaris Danus). Ketiganya kompak menciptakan lelucon yang selalu mengarah pada politisasi emosional intensif. Sebuah laku sederhana tentang tidak mudah marah dalam membuat lelucon.
Faiz benci kepada kata ‘afwan’. Sebuah kata. Diksi apologia dialektik permisiv yang terkompromi.
Suatu sore transisi mendung kepada senja (28 Oktober 2014), Faiz bercerita tentang keyakinan, yang saya percayai. Pertama, ia percaya bahwa angkatannya adalah kader-kader terbaik, pemutus rantai keterpurukan aksi dan komunikasi dari seniornya. Mereka adalah 4 terbaik. Ade Sofiarani (staf KP), Faiz Ahmad Ubaidillah (staf KD), Izzah Abidah (staf KD), Seta Mahardika Caesar Wahyuono (staf KP). Buktinya, mereka punya bakat untuk menularkan ruhul istijabah (responsibilitas spiritual) pada setiap agenda koordinasi dan evalusi, serta menjadi kehati-hatian bagi para pesibuk oleh para pemilik mata penjagal. Dan selalu tak luput menyisipkan komentar terkini mengenai kekompakan, efektivitas kolektif, fungsi distribusi, dan ekspektasi popularitas kinerja organisasi. Selalu mewah dan patut dihadapkan dengan militansi. Kedua, kepada Seta, ia bercakap dengan lirih tentang pondasi siyasah (politik) KAMMI dengan benih kader yang banyak tahun 2014. Sebuah debut bagi Faiz. Dengan lirih, ia seperti menyusun konspirasi. Mungkin begitulah keyakinan Assisi pada suksesi Mursyi, atau begitulah senyum seringai pedang samurai Ayatullah Khomeini dengan revolusinya kepada Reza Pahlevi Khan, atau bayangan hitam yang berpendar dalam kuasa bibir Hitler, Lanin, Stalin pada pembantaian masal, Holocaust sebagai hadiah masa lalu.
Faiz melewati hari dengan sederhana, ia begitu berbeda. Larut pada dakwah juga merembes pada  ruang sempit hatinya, mengenai akedemisi, dan segala cek-cok warna KHS yang sok menentukan. Faiz memainkan geliat cita rasa dakwahnya hampir gemilang, dengan sungguh-sungguh dan hati-hati ia memampatkan kalimat perintah orang tuanya tentang kesuksesan pada sela amanah wajihah.
Faiz suka berbagi dan meminta umminya memaksakan hajatannya untuk berbagi.
Faiz berpotensi mengembangkan dan meledakkan gagasan mengenai pengaruh politik, sistem sosial kepemimpinan, dan manajerial yang sangat jarang diketahui eksistensinya dalam hati-hati kader. Sejauh ini baru tiga orang. Taufiqurrahman (co KP 2014), Adib Khairul Umam (Ketumsat 2013-2014), Raqwan al Aidrus (Sekumsat 2012-2013).
Alasan. Taufiqurrahman, adalah pemimpin muda kepribadian sehat bersemangat. Kerap terinspirasi oleh Fahri Hamzah (pionir KAMMI 1998), Anis Matta (IPM). Taufiq paham dan cerdas tentang peletakan posisi keberpihakan organisasi yang kerap cadas, parsial, dan berkonsekuensi. Taufiq sangat menyukai bila menyelesaikan mantuba-mantuba, sehingga kepemimpinannya selalu ia selesaikan dengan titipan pesan para dai. Contoh, bila dalam syuro, jangan melibatkan pengalaman ketidakmampuan kader , karena kata Taufiq menasehati orang di depan khalayak adalah sama dengan melecehkan. Entah darimana kutipan itu ia ambil. Sayang, bakat Taufiq selalu terhisap dan terbagi untuk mengembangkan UKM Taekwondo.
Alasan. Adib Khoirul Umam, adalah pemimpin dengan cita rasa diktatorialisme, idealisme, presisiatis, dan glamoris. Tampak pada tata spasial, tata alokasi, tata diskusi, dan tata strukturalis.
Alasan. Raqwan al Aidrus, wisudawati terbaik 2013. Mampu memutar stel fleksibilitas adiptif patner. Selalu menciptkan momentum daya guna memoriam. Tak pernah ketinggalan isu, dirindukan oleh senior, junior. Memiliki kemampuan klarifikasi dan tegas keras pada sesi SGD maupun penyusunan buku sejarah (red-draf musykom).
Faiz, memiliki mimpi layaknya seorang muda dengan gairah para mujahid angakatan tahun tinggi. Tentang diasporasitas dakwah, pengukuhan sayap dakwah, dan menjadi yang terbaik. Selalu suka terbawa atmosfir perasaan. Dan selalu siap untuk lebih riang, bila dihadapkan dengan keyakinan. Apapun itu banyak lagi, hal tentang Faiz.        
Faiz selalu mengumandangkan tentang dakwah universal. Dakwah tidak terpaut paralel pada subjek, keterangan tempat dan waktu. Bila bertemu dengan manusia dengan pemetaan tipe alur lembaga, ia selalu menyarankan afiliasi.

Faiz tidak terburu-buru dan memiliki tekstur keindahan realis magis dan berimbang yang sangat pribadi mengenai disain media fisik. Sekali-kali Faiz cerdas berasosiasi perasaan dan sakit hati. Ia akan mudah menerima, karena komunikasi yang tendensius saling sengkarut, sebuah persimpangan idealitas realitas, das sein das solen. Namun jiwa mujahid tak selalu tumbuh karena orang lain, Faiz mengalami sendiri keteguhan diri dan eksistensi KAMMI ke depan. Dan Faiz memiliki sejuta cerita dan kekayaan hati untuk bersemangat. Faiz bagai alaram yang terkonsep sistemik. Bisa menderu-deru bila tidak ditransmisikan atau ada yang rusak pada suku cadang. Namun Faiz tetap sehat, berpuasa. Besok Faiz punya cerita lagi.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar