Selasa, 16 September 2014

(feature) Saya dan Raksasa Senin

Saya dan Raksasa Senin
                Malang (15/9/2014). Dua langkah lebih maju telah saya lewati. Sekarang dan saya rasa setiap hari, manusia akan diberi tantangan dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana ia mempertahankan ide dan organisasinya. Secara sederhana, manusia tidak pernah lepas dari kungkungan eksistensi dan manusiawinya. Saya merasakan KAMMI adalah organisasi yang diharapkan oleh orang-orang di kampus seperti UIN Malang mampu melakukan perubahan geopolitik, menjadikan kampus tempat yang paling nyaman untuk diskusi,  menciptakan suasana beretika, dan memanfaatkan fasilitas dari birokrat untuk kemaslahatan mahasiswa.
                Senin. Saya telah mencatat dan memposting hari itu untuk membuka stand. Tujuan utamanya untuk membuka pendaftaran agenda talkshow dengan bagi-bagi pembatas buku. Tujuan lain, merasakan dan mengobservasi zona dan atmosfir kampus yang akan menjadi lebih cerah dan berwarna dengan varian OMIK dan OMEK. Seperti menjadi memorandum, KAMMI termasuk organisasi sejawat lain menjatuhkan pilihan untuk nampang di sore hari, di waktu MABA melaksanakan PPBA dan menunggu mereka selesai dan mampir. Sebagian dari kelas tidak sesuai dengan jadwal keluar, para mahasiswa sudah banyak yang menyandang tas dan bergerak bergerombol kesana-kemari. Di satu sisi, saya mengamati momen untuk maba singgah adalah setelah selesai kuliah tadi, jadi kemungkinan yang singgah adalah yang sudah salat dan memang ingin singgah.
                Saya berdua, dengan seorang kader dari KP. Seta Mahardika Caesar. Saya merasa tidak percaya diri dengan atribut, bendera yang kecil, dan alas duduk yang sederhana. Saya membawa dua buku, tetapi saya membaca al Ma’surat, sedangkan Seta karena kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti antena, saya suruh membaca buku karangan Sayyid Quthb dengan iming-iming, dulu ada kader yang ingin masuk KAMMI karena melihat yang jaga stand rajin membaca buku. Dia tergugah, dan saya melanjutkan lafalan, sampai melihat dua orang kader LDK, Naufal dan Udi berjalan menuju pohon besar di depan tangga besar membawa bendera yang dilipat dan kemudian membentangkannya;IMMAN.
                Saya dan Seta di bawah tangga gedung B dekat tangga besar, di sana ada ACM. Sebuah klub asli Malang yang suka menabuh gendang, warna mereka biru dan putih. Saya merasai bahwa Seta juga ingin bergabung dengan mereka. Saya siap ditinggal. Sesekali Udi yang menyadari keberadaan saya, mampir dan menyemangati. Stand KAMMI, berada paling pinggir, di sebelahnya terus sampai menuju hampir ke mabna mahasiswi, penuh dengan orang-orang yang duduk di bawah panji mereka, bak raksasa, saya dan Seta adalah orang kecil. Sebenarnya di tempat saya, sudah terbentang bendera HMI, dengan warna kejahatan, yakni hijau tua dan hitam. Tapi mereka tidak jahat. Warnanya tidak memantul ke lantai karena kainnya kusam. Namun tak berapa lama setalah itu, datang pula genderang paling berkuasa di UIN, PMII rayon al Faruq dari fakultas Syariah. Sungguh mereka sangat besar, bahkan superioritasnya pun memantul dari bendera besar kuning mereka pada lantai putih dekat saya dan Seta duduk, seakan telah memindai daerah kekuasaannya, ingin membuat saya dan Seta malu dan ciut.
                Seta ingin pergi. Saya perbolehkan, bukankah yang lainnya, patner saya juga pergi. Bukan pergi, sedang sibuk sendiri, tepatnya. KD sedang menyusun strategi pendidikan pada kader, KP sedang mencari suhu yang tepat untuk bertemu dan berlatih menjadi kompak, HUMAS sukses dengan program pertamanya; KAMMI DAY, Danus seperti KP. Sedang PH, saya melihat Latifah mau singgah saat melihat saya dan Udi sedang duduk, Udi menyesali dan memesankan kepada saya untuk menyiapkan stand yang lebih baik esok hari. Kestari sedang menjajaki peran tambahan di fakultasnya, yakni asisten laboratorium. Dan Bendum, sedang diberi tenggat untuk menikmati perjalanan dan kesibukan. Saya sendiri, karena Udi harus pergi, dia tak ingin tercium sebagai kader yang pernah terlibat di KAMMI. Saya sendiri lagi, saya menikmati. Ternyata Subhan datang, seorang teman Udi dan Naufal. Dia tertarik dengan pembatas buku KAMMI. Dia mengambil tiga sekaligus. Tapi ia ingin bergabung dengan Naufal dan Udi.  Saya sendiri lagi. kesendirian ternyata berkah bagi saya, karena momen itu halaman buku tarbiyah siyasah hanya tinggal 7 halaman lagi.
                Seorang berbadan besar, mendekat. Wajahnya legam dan bibirnya hitam, duduk tidak sesuai tempat, dan tertawa kencang. Di depan, orang-orang sedang tertawa, mata tertuju ke sana, melihat iba kepada seorang yang diikat di atas tanah, seperti seorang tahanan polisi, kedua tangan erat di atas pinggang. Dua tiga orang berlarian membawa ember dan wadah seadanya, membawa air, dan menyiramkan orang tadi, dengan hina dan merendahkan. Perempuan-perempuan di sana berteriak histeris dan merasa jijk. Apakah air dari kamar mandi menjijikkan, mata memastikan, ternyata bukan dari kamar mandi. Tapi dari bibir mereka, air sekantung meloncat dan mengenai pipi si orang terikat, dua kali.
                Namanya Ma’mun, seorang mahasiswa semester 5. Saya berpendapat, lawan dia adalah Syafi’i (KP), Ainun (HUMAS), Miftah (KD), Margaret (DANUS), Haris (HUMAS), Ghina (HUMAS), Lana (HUMAS). Namun jangan coba-coba melawan HMI. Karena mereka selalu mengandalkan sarjanah kalau berdiskusi. Yang adil, ya KAMMI, PMII, IMM, dan IPNU kali ya.
                Saya. “PMII kompak....”.
                Ma’mun. “Kompaknya seperti itulah mas”. Ma’mun menunjuk seorang yang terikat tadi, ia meludah, tapi tak meloncat tinggi.
                Kami bertukar informasi mengenai keadaan dalam organisasi. Tak ada wajah dendam dan jahat dari wajahnya. Ia hanya berbahasa Jawa dan tersenyum lebar. Sekalipun saya menyuruhnya duduk di atas banner, ia menolak. Saya berikan pembatas buku juga, ia senang sedikit. Saya ingin menyudahi pergelaran stand sederhana, ia berkata tentang KAMMI, ia ingin KAMMI jangan bentrok dengan PMII, dan ambil bagian mewarnai kampus di sore hari. Saya senang di sambut seperti itu. Saya pergi, dan Seta menghampiri, saya persilahkan untuk pulang, karena sudah maghrib.

                Saya cukup lelah dan menyenangkan untuk menjadi lebih berani. Satu hal yang paling mengobati adalah, ketika setelah selesai solat, saya melihat senior saya sedang berdoa. Damailah hati saya. Saya terlalu senang melihat orang yang saya kenal dan selama ini tidak pernah bertemu. Saya pandang saja, ia merangkul Syafi’i menuju ke luar kampus, matanya tetap sayu, setiap saat. Rambutnya tidak merenggas keriting lagi, sudah pendek.  

1 komentar:

  1. penulisannya hebat..
    deskripsi kondisi nya begitu detail, sehingga para pembaca dapat merasakan atmosfer disana juga.
    good job kammi uin malang, 2 langkah hebat Untuk berani memulai bersama2 omek lain utk menunjukkan kalau kammi uin memang ada. and someday I hope many persons to join with kammi, insyaallah :)

    BalasHapus