Rabu, 03 September 2014

Kepercayaan dalam Persaudaraan

Pada masa dakwah Rasulullah di awal-awal periode Mekkah, Beliau mengajak pada keluarganya. Yang merasa dekat dengan Beliau. Ketika al Qur’an sudah masuk ke dalam tubuh, hingga Aisyah berkata bahwa Akhlaq Rasulullah adalah al Qur’an. Dan dengan kemukjizatan al Qur’anlah Umar masuk Islam (convert).
            Suatu hari manusia akan masuk ke dalam suasana yang sama untuk melakukan perubahan besar. Contohnya perang. Dikatakan bahwa Nabi terdahulu berdakwah dengan diberi umur yang panjang, namun pengikut yang sedikit. Apakah dengan jumlah saja sudah cukup untuk menandai keberhasilan dakwah. Tidak. Suatu saat kita juga akan mendengar bahwa Sayyid Quthub harus syahid di atas gantungan oleh Jamal Abdul Naser, teman seperjuangan. Yang diperlukan adalah sikap kepercayaan dan persaudaraan.
            Kepercayaan ini pulalah yang tertanam kuat oleh para pemeluk Islam terdahulu (as sabiqunal awwalun), sehingga mereka tidak akan pernah tahu syahid adalah jalan hidup mereka. Bagaimana rasanya kalau Anda menjadi Ammar bin Yasir. Menyaksikan tragedi penyiksaan dengan mata kepala sendiri oleh orang-orang kafir kepada Ibu Anda. Apa yang membuat Ibunda Ammar tidak mengenal kalimat lain selain tauhid. Bilal bin Rabah terus-menerus disiksa dengan batu yang ditimpa ke badannya. Ia seorang budak. Yang amat berbeda dengan Khalid ataupun Umar. Di Indonesia, Buya Hamka mesti meringkuk dalam penjara karena asas Islam yang ia bawa kepada perpolitikan Indonesia tidak sesuai dengan Manipolusdek.
Karena masalah kepercayaan tidaklah sama dengan masalah pekerjaan. Yang satu masalah ruhani dan yang satu adalah masalah jasmani.
            Apa yang menggerakkan jasmani sebenarnya? Kita juga sering membaca, bahwa segala sesuatu dimulai dari pikiran. Dari pikiran ia akan menjadi kepercayaan dan selanjutnya akan menjadi kebiasaan. Begitulah proses pembudayaan dalam alam akal budi. Yang mesti dipercaya adalah apa yang sudah difirmankan oleh Allah. Sebagaimana firman Allah berikut, “Ataukah kami mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datangpertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat” (al Baqoroh; 214)
            Dalam epik Ustadz Felix Y. Siauw, Belia bertutur Sultan Mahmed II pada tahun 1422 menjadi gubernur Amasya. Kegagalan demi kegagalan menghantui mental kepemimpinan Beliau. Namun ia terus belajar, menyusun strategi perang, mempelajari kondisi geografis, dan semangat untuk berkorban. Semua itu dilakukan olehnya karena bisyarah dari Rasulullah. “Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya” (HR. Ahmad). Sehingga ketika ia menggantikan kakaknya menjadi sultan di Edirne, ia ingin kembali membebaskan Konstantinopel sebagaimana dulu yang pernah menjadi program ayahnya, Sultan Murad II.
Apakah Anda pikir ketika pasukan dan persiapan perang sudah siap, ujian kesungguhan tidak ditimpakan kepada sultan Mahmed II? Sempat panglima perangnya yakni Bourtoughle menyerah karena Konstantinopel memiliki sistem pertahana yang selama kurang lebih 1300 belum mampu dipatahkan. Sehingga, armada perang sultan yang sudah memasuki titik wilayah musuhpun, mereka mengalami banyak ketidakpuasan dalam perang. Banyak pasukan yang mati. Rantai emas yang menjadi permasalahan di jalur luat dilalui dengan cara mendorong kapal-kapal perang mereka menuju Teluk Tanduk Emas di atas tanah. Begitulah perjuangan yang dilalui. Untuk sungguh-sungguh percaya kepada isyarat Rasulullah.
            Itulah mengapa Hasan al Banna mengatakan kalau seseorang sudah paham afiliasi jamaah adalah langsung kepada Allah, maka ia akan bertambah loyal dan rajin salat. Semua itu kalau dilakukan dengan kesadaran pada pendidikan (tarbiyah) keislaman. Pendidikan yang juga diberikan Rasulullah kepada sahabatnya, sehingga ketika perintah untuk berperang sudah turun, mereka telah bersiap sedia.

            Dan mengapa persaudaraan begitu menjadi kunci amal sebuah organisasi. Dalam pepatah Indonesia kita juga sering mendengar, berat sama dipikul//ringan sama dijinjing. Semua akan terasa ringan. Bagaimana keramahan hati kaum anshor dalam menyambut kaum muhajirin bisa juga dipakai dalam mempelajari bagaimana mempertahankan rasa persaudaraan. Suatu saat saya mendengar bahwa ustadz Jamalulail mengatakan kalau salah satu sarana kebahagiaan adalah bertemu dengan teman. Walaupun guru saya, pak Ali Hasyimi juga pernah mengatakan sarana lainnya adalah pulang kampung. Mulai sekarang, mari memperbaiki diri. Mari saling mempercayai, dan saling bersama. Karena kelemahan kita adalah kita tidak bersatu. Begitulah cara orang jahat memperdaya orang baik… semoga bermanfaat.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar