Pada masa dakwah Rasulullah di awal-awal
periode Mekkah, Beliau mengajak pada keluarganya. Yang merasa dekat dengan
Beliau. Ketika al Qur’an sudah masuk ke dalam tubuh, hingga Aisyah berkata
bahwa Akhlaq Rasulullah adalah al Qur’an. Dan dengan kemukjizatan al Qur’anlah
Umar masuk Islam (convert).
Suatu
hari manusia akan masuk ke dalam suasana yang sama untuk melakukan perubahan
besar. Contohnya perang. Dikatakan bahwa Nabi terdahulu berdakwah dengan diberi
umur yang panjang, namun pengikut yang sedikit. Apakah dengan jumlah saja sudah
cukup untuk menandai keberhasilan dakwah. Tidak. Suatu saat kita juga akan
mendengar bahwa Sayyid Quthub harus syahid di atas gantungan oleh Jamal Abdul
Naser, teman seperjuangan. Yang diperlukan adalah sikap kepercayaan dan persaudaraan.
Kepercayaan
ini pulalah yang tertanam kuat oleh para pemeluk Islam terdahulu (as
sabiqunal awwalun), sehingga mereka tidak akan pernah tahu syahid adalah
jalan hidup mereka. Bagaimana rasanya kalau Anda menjadi Ammar bin Yasir.
Menyaksikan tragedi penyiksaan dengan mata kepala sendiri oleh orang-orang
kafir kepada Ibu Anda. Apa yang membuat Ibunda Ammar tidak mengenal kalimat
lain selain tauhid. Bilal bin Rabah terus-menerus disiksa dengan batu yang
ditimpa ke badannya. Ia seorang budak. Yang amat berbeda dengan Khalid ataupun
Umar. Di Indonesia, Buya Hamka mesti meringkuk dalam penjara karena asas Islam
yang ia bawa kepada perpolitikan Indonesia tidak sesuai dengan Manipolusdek.
Karena masalah kepercayaan
tidaklah sama dengan masalah pekerjaan. Yang satu masalah ruhani dan yang satu
adalah masalah jasmani.
Apa
yang menggerakkan jasmani sebenarnya? Kita juga sering membaca, bahwa segala
sesuatu dimulai dari pikiran. Dari pikiran ia akan menjadi kepercayaan dan
selanjutnya akan menjadi kebiasaan. Begitulah proses pembudayaan dalam alam
akal budi. Yang mesti dipercaya adalah apa yang sudah difirmankan oleh Allah. Sebagaimana
firman Allah berikut, “Ataukah kami mengira bahwa kamu akan masuk surga,
padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang
terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang
(dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman
bersamanya berkata, “Kapankah datangpertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan
Allah itu dekat” (al Baqoroh; 214)
Dalam
epik Ustadz Felix Y. Siauw, Belia bertutur Sultan Mahmed II pada tahun 1422
menjadi gubernur Amasya. Kegagalan demi kegagalan menghantui mental
kepemimpinan Beliau. Namun ia terus belajar, menyusun strategi perang,
mempelajari kondisi geografis, dan semangat untuk berkorban. Semua itu
dilakukan olehnya karena bisyarah dari Rasulullah. “Sungguh, Konstantinopel
akan ditaklukan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan
sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya” (HR. Ahmad).
Sehingga ketika ia menggantikan kakaknya menjadi sultan di Edirne, ia ingin
kembali membebaskan Konstantinopel sebagaimana dulu yang pernah menjadi program
ayahnya, Sultan Murad II.
Apakah Anda pikir ketika
pasukan dan persiapan perang sudah siap, ujian kesungguhan tidak ditimpakan
kepada sultan Mahmed II? Sempat panglima perangnya yakni Bourtoughle
menyerah karena Konstantinopel memiliki sistem pertahana yang selama kurang
lebih 1300 belum mampu dipatahkan. Sehingga, armada perang sultan yang sudah
memasuki titik wilayah musuhpun, mereka mengalami banyak ketidakpuasan dalam
perang. Banyak pasukan yang mati. Rantai emas yang menjadi permasalahan di
jalur luat dilalui dengan cara mendorong kapal-kapal perang mereka menuju Teluk
Tanduk Emas di atas tanah. Begitulah perjuangan yang dilalui. Untuk
sungguh-sungguh percaya kepada isyarat Rasulullah.
Itulah mengapa Hasan al Banna mengatakan kalau seseorang
sudah paham afiliasi jamaah adalah langsung kepada Allah, maka ia akan
bertambah loyal dan rajin salat. Semua itu kalau dilakukan dengan kesadaran
pada pendidikan (tarbiyah) keislaman. Pendidikan yang juga diberikan
Rasulullah kepada sahabatnya, sehingga ketika perintah untuk berperang sudah
turun, mereka telah bersiap sedia.
Dan mengapa persaudaraan begitu menjadi kunci amal sebuah
organisasi. Dalam pepatah Indonesia kita juga sering mendengar, berat sama
dipikul//ringan sama dijinjing. Semua akan terasa ringan. Bagaimana
keramahan hati kaum anshor dalam menyambut kaum muhajirin bisa juga dipakai
dalam mempelajari bagaimana mempertahankan rasa persaudaraan. Suatu saat saya
mendengar bahwa ustadz Jamalulail mengatakan kalau salah satu sarana
kebahagiaan adalah bertemu dengan teman. Walaupun guru saya, pak Ali Hasyimi
juga pernah mengatakan sarana lainnya adalah pulang kampung. Mulai sekarang,
mari memperbaiki diri. Mari saling mempercayai, dan saling bersama. Karena
kelemahan kita adalah kita tidak bersatu. Begitulah cara orang jahat memperdaya
orang baik… semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar